Thursday, January 3, 2008

Dunia Nyata Umat

Oleh :Haedar Nashir


Umat Islam di negeri ini jumlahnya mayoritas. Tahun 2000 persentasenya 89,22 persen dari total penduduk. Patut disyukuri bahwa jumlah sebesar itu telah mengantarkan Indonesia menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Tak berlebihan jika setiap dinamika Islam yang muncul di Nusantara tercinta ini selalu menjadi perhatian dunia, bahkan untuk isu terorisme yang sangat merugikan nama baik umat sekalipun.

Namun besar angka tak berarti selesai urusan. Mayoritas jumlah tapi minoritas dalam kualitas. Umat marginal secara politik, sekadar jadi maf'ul-bih alias objek penderita. Tertinggal dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masih rendah mutu sumber daya manusianya. Kondisi kesehatan dan lingkungannya pun masih memprihatinkan. Lebih parah lagi kondisi ekonominya, masih dililit kemiskinan.

Kemiskinan bahkan masih menjadi momok terbesar umat Islam di negeri kepulauan nan luas ini. Sejak zaman penjajahan Belanda hingga saat ini. Di era reformasi keadaan umat yang miskin tidak lebih baik. Padahal dari kemiskinan itulah segala hal bermula. Tak bisa memenuhi kecukupan makan, sandang, dan papan. Kesehatan rendah. Taraf pendidikan di bawah standar, bahkan ada yang tak bersekolah. Kondisi kesejahteraan pun tak memenuhi harapan hidup. Hidup umat jadi serba marginal.

Karena serba marginal, umat Islam di negeri ini tak bertenaga. Tidak memiliki daya hidup yang kuat, apalagi di atas standar. Kekuatannya sebatas demografis, itu pun terfragmentasi. Lebih sebagai kekuatan semu seperti gincu. Tampak dahsyat dari luar, tapi bagaikan genangan danau.

Menggelembung tak mengalir. Meminjam istilah Pak AR Fakhruddin, ibarat gajah bengkak (gajah abuh). Besar dan berpenyakit, karenanya sulit bergerak lincah. Padahal gerak merupakan lambang daya hidup selaku khalifat fiy al-arld.

Di negeri-negeri muslim pun kondisi umat tak jauh beda, kendati di Timur Tengah secara ekonomi baik. Tapi di negeri-negeri Afrika sangat parah, bahkan di bawah Indonesia. Sementara kaum Muslim di Timur Tengah secara politik tak dapat jadi uswah hasanah. Mereka tak berdaya melawan Israel, hingga sejak tahun 1948 belum berhasil membebaskan Palestina. Padahal negeri Zionis itu wilayahnya sempit, penduduknya hanya enam juta, dan posisinya dikepung negara-negara Arab yang kuat secara ekonomi dan militer. Negeri-negeri Islam itu besar tapi tak bersatu. Apa daya, jumlah besar bagaikan buih. Besar dengan gelembung putih tak berisi.

Padahal Tuhan telah memberi janji bahwa umat Muhammad ini akan menjadi khalifah yang berkuasa di muka bumi sebagaimana kejayaan umat terdahulu (QS An-Nur: 55). Janji Tuhan sangatlah tepat dan pasti, lebih-lebih diungkapkan dengan kalimat ta'qid (penguat). Namun karena tak memenuhi syarat, maka umat Islam masih belum jaya. Tak memenuhi syarat untuk menjadi khalifah yang digdaya di muka bumi ini.

Di negeri Nusantara tercinta ini apa yang bisa dilakukan dengan umat yang lemah atau marginal? Tak banyak yang dapat dilakukan, sebatas ikhtiar minimal. Bahkan sebaliknya, banyak yang menjadi bahan mobilisasi tak bertanggung jawab. Lebih-lebih mobilisasi politik dalam berbagai perhelatan. Ketika pemilu dan pilkada hingga pilkades mereka disapa dan kadang dimanjakan, tetapi sehabis pesta umat ditinggalkan dan tak dihiraukan. Para elite dan partai politik pun begitu gairah kalau sedang ada maunya. Mujahadah akbar, khaul, tabligh akbar, dan perhelatan berbau ritual agama pun digelar dengan penuh semangat. Tetapi usai hajat digelar, umat pun gigit jari.

Di negeri ini bahkan ada asumsi sekaligus komoditi politik menarik untuk umat yang marginal. Politik Islam katanya sangatlah penting dan strategis untuk amar makruf nahi munkar melalui kekuasaan. Melalui tangan negara. Memang tepat jika dijalankan. Negara dan institusi-institusi politik yang berada di dalamnya merupakan tangan yang efektif dan strategis untuk mengurus rakyat, termasuk umat Islam. Apa yang tak mampu dilakukan oleh tangan-tangan kekuasaan.

Namun apa daya. Negara, partai politik, dan para elite strategis di dalamnya hingga saat ini tak mampu menjalankan amanat rakyatnya, amanat umat. Keadaan bahkan sebaliknya, umat sekadar jadi sasaran mobilisasi belaka. Ketika umat dirundung musibah dan dililit kesusahan hidup, pemimpin puncak sibuk dengan tebar pesona dan urusan-urusan citra, juga sibuk dengan rencana politik 2009. Partai dan elite politik di parlemen pun lebih banyak mengurus dirinya, termasuk urusan kenaikan gaji dan tunjangan.

Partai politik Islam pun seolah tak jauh beda. Tak sungguh-sungguh peduli dengan urusan umat yang besar-besar seperti memecahkan kemiskinan, pengangguran, dan kesejahteraan rakyat/umat melalui kebijakan-kebijakan politik pro-rakyat. RUU APP saja hingga kini tak jelas nasibnya, padahal bagi umat itu penting karena menyangkut ikhtiar membangun akhlak dan melawan demoralisasi yang makin liar. Kadang umat sekadar diberi kembang gula politik seperti demo para aktivis politik dan pernyataan tokohnya yang menyenangkan hati umat seketika, tetapi tak mengubah keadaan. Apalagi memecahkan kemiskinan, pengangguran, dan marginalisasi sosial umat. Padahal, partai politik sesungguhnya harus bermain di aras kebijakan, bukan dalam kerja-kerja sosial dan keagamaan yang sebenarnya bukan wilayahnya. Partai politik dan para elitenya semestinya bergerak di jalur kekuasaan. Berbuatlah optimal bila perlu mati-matian di level kebijakan negara.

Kepemimpinan umat pun seolah kehilangan fungsinya yang efektif dan strategis untuk memberdayakan umat. Urusan pilkada dan perhelatan-perhelatan politik lainnya sering menyita energi umat dan para elitenya. Menteri Agama sampai melakukan kritik, para ulama sibuk dengan urusan politik, abai dalam mendidik dan mencerahkan umat. Nalar umat dipadati dengan urusan sesat-menyesatkan paham, yang membuat pikiran umat menjadi bernapas pendek dan hilangnya ruh kearifan dan kecerdasan. Sementara elemen umat yang galak, akhirnya menumpahkan energi keagamaannya untuk selalu marah dan melakukan tindakan kekerasan tanpa pertimbangan panjang, yang pada akhirnya meruntuhkan nama baik dan kehormatan Islam.

Padahal, kata Al-Mawardi, kepemimpinan umat itu harus hadir sebagai pantulan kerisalahan Nabi, yakni "fiy harasat al-din wa al-siyasat al-dunya". Menegakkan nilai-nilai agama dan mengurus urusan dunia dengan sebaik-baiknya. Nilai-nilai agama yang berbasis kerisalahan Nabi, tiada lain menjadi rahmat bagi semesta alam sebagaimana deklarasi Tuhan untuk risalah Muhammad: wa ma arsal-n-ka illa rahmatan lil-'alamin (QS Al-Anbiya: 107). Sedangkan siyasah (politik) adalah "sawas al-amr", mengurus urusan sesuatu (dunia) dengan baik dan benar, bukan pekerjaan siasat menyiasati dan akal-akalan.

Memang, tak mudah menghadirkan politik dan kepemimpinan umat yang membumi, yang menyentuh dunia nyata. Lebih-lebih dalam masyarakat dan bangsa yang masih dibalut budaya parokhial dan patrimonial. Dua institusi terpenting umat itu seringkali gagal dalam menyentuh dan memecahkan masalah-masalah konkret yang dihadapi umat. Apalagi untuk merambah persoalan-persoalan universal yang serba melampaui dunia umat. Kultur politik dan kepemimpinan umat alih-alih tak mampu menyelesaikan urusan-urusan dunia yang kompleks dan nyata, malah giat memproduksi simbol dan pesona kulit luar. Merah menyala di angkasa, tapi kehilangan substansi dan fungsi untuk membebaskan dan mencerahkan kehidupan umat di dunia nyata.

Kapitalisasi Politik

Oleh : Haedar Nashir

Apa yang paling laris dijual di negeri ini? Boleh jadi politik. Politik sejatinya merupakan pekerjaan yang mulia. Melalui politiklah urusan-urusan publik dapat dikelola secara efektif, sehingga negara dengan seluruh alatnya dapat difungsikan untuk sebesar-sebesar kemakmuran rakyat. Apa yang musykil dilakukan oleh tangan-tangan sosial masyarakat, dapat dilakukan dengan mudah oleh tangan partai politik maupun para politisi. Itu idealnya.

Kenyataannya? Tak semudah retorika. Kini, politik berubah drastis fungsinya. Politik jadi ajang komoditi, sekaligus alat-tukar yang paling menjanjikan. Dunia politik sungguh telah berubah menjadi pasar bebas, sekaligus pasar taruhan yang paling menggiurkan. Tengoklah bagaimana para calon dalam pilkada di mana saja. Selalu ada obral uang, sekaligus bual janji, untuk menuju tangga jabatan puncak di pemerintahan daerah. Lalu, lahirlah para pialang sekaligus broker politik yang kian mengawetkan dan menggelembungkan budaya politik uang.

Politik uang bukan malah berhenti, tapi kian menjadi-jadi. Kita sungguh miris mendengar kabar, bagaimana uang miliaran begitu mudah jadi alat jaul-beli kepentingan politik dalam berbagai pilkada di negeri ini. Baru mau mendaftar jadi calon saja konon sudah harus mengeluarkan fulus sangat besar, apalagi sudah jadi calon dan terpilih. Tak dapat dibayangkan, bagaimana para pejabat negara/politik itu manakala sesudah terpilih kemudian harus "melunasi utang-utang politik". Lalu, kapan berkonsentrasi untuk mengemban amanat publik secara serius tanpa diganggu oleh tagihan-tagihan "kas-bon politik"? Jabatan publik jadi sulit kembali ke hulunya, yakni rakyat pemberi mandat. Bisa-bisa malah memanjakan cukong.

Kita sungguh sulit memahami denyut nadi politik saat ini. Bukan hanya pragmatis sebagaimana watak dasar politik: who gets what, when and how. Politik, menurut Machiavelli, laksana perjuangan ala Rubah, menempuh apa saja untuk menuju singgasana. Guna menjadi sangat perkasa, virtouse. Tak peduli apakah politik itu dimainkan partai atau politisi "sekuler" atau yang membawa klaim agama, jalan dan hasil akhirnya tetap sama: menempuh segala macam cara. Segala hal menjadi serba boleh, yang beda tampilan dan klaim politiknya.

Kini politik selain pragmatis, menjadi sangat materialistik. Tak ada uang, tak ada jabatan publik. Setiap jengkal langkah, harus ada duit. Dunia politik jadi rimba ber-uang. Uang begitu tampak mudah, entah dari mana? Padahal, konon negeri ini sedang jatuh krisis dan miskin, hingga orang miskin dan penganggur kian membengkak, dan tentu saja utang luar negeri masih tetap jadi beban terberat hingga berapa generasi.

Boleh jadi ini memang zaman kapital? Selamat datang di dunia kapitalisme politik. Suatu era ketika politik memang menjadi bagian dari kerja kaptilalisme neoliberal, yang semakin menggurita dan digdaya. Apa pun menjadi bagian dari kegiatan ekonomi-uang, termasuk politik. Politik menjadi bagian dari ekonomi mengejar serba profit, keuntungan materi, di luar kepentingan kekuasaan dan prestise sosial. Jadi bagian dari mesin produksi yang berorientasi pasar, bahkan pasar bebas dalam cengkeraman nafsu dan sistem liberalisme bahkan neo-liberalisme. Semua kegiatan politik dan yang berkaitan dengannya menjadi proses kapitalisasi.

Para politisi atau orang partai politik tidak lagi risih menggunakan kosakata kapitalisasi politik. Maksudnya mungkin modal politik dari suatu kegiatan politik yang akan menghasilkan akumulasi raihan kekuasaan setelah itu. Tapi, secara tidak sadar sesungguhnya menunjukkan wajah "kapital" dari perpolitikan di negeri ini. Politik jadi bagian tak terpisahkan dengan kegiatan ekonomi dan menggunakan prinsip dan cara kerja bisnis sebagaimana hukum kapitalisme bekerja. Politik semata-mata ingin meraih "profit" akumulasi kekuasaan dan dukungan. Dengan siapa pun berkongsi tak mengapa, yang penting target-target keuntungan politik dapat diraih, jika tidak saat ini maka untuk tahun 2009.

Kejarlah keuntungan sebesar-besarnya, bila perlu dengan menggunakan segala cara. Bila perlu menjual klaim moral dan agama untuk politik. Dengan klaim moral dan agama, kapitalisasi politik bahkan menjadi berwajah ganda: propan dan sakral. "Sakralisasi" politik atas nama moral, agama, dan Tuhan bahkan makin membuat laris atau tinggi harganya, hingga masuk ke dunia propan tak kepalang tanggung. Tangan yang satu berwajah "langit" hingga tampak seperti Malaikat yang turun ke jagad politik, sedang tangan yang lain berlumuran pragmatisme politik yang tak kalah propan ketimbang politik "sekuler". Jika dalam hukum Machiavelli segala cara dibolehkan untuk meraih "virtouse" (kedigdayaan kuasa), maka dalam hukum "politik keagamaan" segala cara dibolehkan karena ada dalil moral atau agama. Tapi muaranya sama: melipatgandakan dan meraih keuntungan politik sebesar-besarnya dengan menggunakan hukum-hukum ekonomi kapitalisme.

Maka tak mengherankan jika dunia politik di negeri ini semakin elitis, tidak populis. Baik elitis berlabel pragmatis, maupun ala "rahbaniah" ideologi politik keagamaan. Elitisme politik keagamaan bergaya "rahbaniah" ingin menciptakan genre atau jamaah politik yang kental "kesantriannya" atau "keislamannya" dalam formalisme dan paham Islam puritan-ideologis, yang membedakan secara kategoris dan ekslusif dari yang lain. Suatu logika politik-keagamaan beraroma teori poskolonial dalam era misi Zending di negeri-negeri jajahan pada masa lampau. Setiap rumah harus dimasuki dengan semangat "mendakwahi" orang, yang hasil akhirnya sesungguhnya kapitalisasi politik yang berorientasi elitis itu.

Kapitalisasi politik yang serba berorientasi target-kuasa plus militansi ideologi yang membara, akan melahirkan hegemoni baru. Tak ada celah dan ruang kultural yang longgar, kecuali politik. Tak ada relasi sosial yang lentur, kecuali politik yang serba serius. Bahkan agama pun, yang semestinya memberi ruang dan pandangan yang serba melintasi dan melampaui mulai kehilangan autentisitasnya, diinterupsi absolutisme ideologi politik.

Tahun 2009 seolah dekat. Kekuatan-kekuatan dan elite nasional kian bergairah saling memposisikan diri melalui beragam simulasi peran. Calon mencalonkan sudah dimulai, ada yang serius ada pula yang sekadar menanam saham. Memang itulah dunia politik dan hingga batas tertentu wajar adanya. Partai dan politisi memang dilahirkan untuk perjuangan kekuasaan, dan itu sah adanya. Tapi selalu ada harga yang harus dibayar atau lebih tepatnya dikorbankan, yakni kepentingan-kepentingan rakyat yang bersifat nyata, yang sesungguhnya memerlukan kebijakan-kebijakan politik yang autentik prorakyat.

Para politisi dan partai politik memang banyak yang menyapa rakyat dengan ramah. Tetapi terbatas ketika ada keperluan hajatan politik seperti Pemilu dan Pilkada. Atau ketika ada maunya. Sapaan ramah seperti itu pun sifatnya sumir atau parsial saja, tidak masuk ke wilayah fundamental dan substansial.

Partai politik dan politisi yang jualan politik tampaknya tak sungguh-sungguh masuk ke pembuatan keputusan dan kebijakan politik yang prorakyat. Bagaimana kebijakan untuk memecahkan kemiskinan, menghentikan perusakan aset-aset negara, menjaga kedaulatan bangsa, memecahkan pengangguran, menyelesaikan utang luar negeri, menghentikan kenaikan harga barang-barang kebutuhan pokok, dan sebagainya. Soal kelangkaan minyak tanah saja tak begitu diperhatikan. Masak di usia kemerdekaan 62 tahun negeri ini rakyat masih dililit kelangkaan minyak tanah? Seolah negeri ini belum merdeka.

Agaknya banyak perspektif yang lepas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Republik ini. Selain politisi dan partai politik, pemimpin pemerintahan pun seolah kehilangan "world-view" dalam mengelola dan mengarahkan jalannya negara. Soal satu Mendagri saja begitu berlarut-larut, yang mengesankan negara disubordinasikan ke dalam rasa sentimental dan bukan urusan tata kelola pemerintahan yang semestinya mengutamakan kepentingan publik. Banyak hal kecil menjadi heboh, sebaliknya yang urusan-urusan besar seolah dibiarkan berlalu bersama waktu.

Publik dininabobokan dengan retorika yang kehilangan perspektif, kecuali sebatas ornamen polesan dan kerja-kerja politik sesaat. Sementara bangsa dan negara ini semakin kehilangan banyak momentum untuk bangkit dan maju setara dengan bangsa dan negara lain. Politik dan juga pemerintahan, meminjam logika Michel Foucault, sekadar melakukan reproduksi kekuasaaan. Malah bukan sekadar mendaur-ulang, sekaligus kapitalisasi nafsu-kuasa. Para pelaku politik lantas menjadi serba bebal dan ajimungpung, di tengah banyak rakyat kecil yang hidup kian terengah-engah.

Kalau 'Rasul' Menyerah, Kalau 'Jibril' Menangis

Oleh : KH A Hasyim Muzadi


Belakangan ini marak bermunculan ''bayi-bayi agama baru'' yang menyempal dari agama ''induknya''. Kebetulan yang banyak muncul di media massa, adalah penyempalan dari mereka yang sebelumnya mengaku bersumpah setia kepada Islam. Karena aneka macam alasan, maka lahirlah bayi-bayi itu dengan nama antara lain, Salamullah, Wetu Tellu, ajaran salat versi Yusman Roy, Alquran Suci, Jamaah Udeng Ireng serta beberapa lainnya dengan nama yang aneh-aneh. Yang paling mutakhir adalah testimoni Abdussalam alias Ahmad Mushaddeq yang mengaku sebagai seorang nabi dan rasul sekaligus. Setelah sekian hari, demikian pengakuan yang bersangkutan, melakukan tapabrata di gunung Bunder, Bogor, turunlah wahyu versi keyakinannya. Ia meproklamirkan diri telah mendapatkan ''amar'' dari Tuhan dan diberi tanggungjawab menyelamatkan umat manusia, khususnya umat Islam di Indonesia.

Seruan mantan pelatih fisik bulu tangkis ini, luar biasa sukses, karena tak sedikit umat yang terbuai ajakannya. Kabarnya, puluhan ribu orang bertekuk keyakinan di hadapan ''sang rasul''. Beberapa bahkan ada yang rela menukar akidahnya dengan ajaran baru. Maka, setelah sekian waktu berlalu dengan damai sentosa, dan dengan keberanian yang luar biasa pula, Mushaddeq melakukan pembaiatan atas para pendukungnya, secara terbuka, terang-terangan, bahkan sangat demonstratif di sebuah hotel di Jakarta. Diliput puluhan media massa pula. Dengan busana yang khas para profesional, celana gelap, baju lengkap dengan jas dan dasinya, Mushaddeq menerima ''takluknya'' beberapa orang di hadapannya. Seperti tanpa daya untuk mempertanyakan, mereka menyatakan persaksian dengan mengubah syahadat yang biasa dilakukan umat Islam. Syahadatnya menjelaskan; Mushaddeq sebagai Almasih Almaw'ud. Almasih yang dinanti-nanti kehadirannya.

Berbeda dengan Islam yang dibawa Baginda Rasul Muhammad SAW, Mushaddeq memberi kemudahan kepada pengikutnya untuk tidak salat, tidak puasa, tidak berhaji dan tidak mengeluarkan zakat. Kilahnya, mereka tengah hidup di periode Makkah, periode yang beberapa rukun Islam belum disyari'atkan. Akunya, itu semua baru akan dilakukan setelah hijrah. Hijrah entah kapan. Hijrah entah ke mana. Karena tak lama setelah secara blow-up diberitakan di semua media, cetak dan elektronik, Mushaddeq menyatakan menyerahkan diri kepada aparat kepolisian. Itu pun hampir terlambat, karena banyak pengikutnya, yang di luar harapan banyak penganut agama lama, tak pantas menerima perlakuan keterlaluan, karena sejatinya mereka bisa diajak dan diantar ''pulang'' ke rumah lama. Seorang rasul menyerah? Seorang nabi bertekuk lutut? Rasanya belum ada dalam sejarah seorang rasul menyerahkan diri.

Pada waktu nyaris bersamaan, seseorang yang mengaku sebagai Malaikat Jibril justru meninggalkan ''ruang tahanan'' aparat hukum; aparat yang notabene berasal dari kalangan para manusia juga. Setelah hampir dua tahun mendekam, ia bebas dengan air muka penuh iba dan menangis. Aparat hukum berjanji akan terus memata-matainya; apakah ia masih setia meluaskan ajarannya itu setelah bebas dari bui. Kalau untuk kedua kalinya dinilai menista agama tertentu, maka boleh jadi ia akan berhadapan kembali dengan hukum positif negeri ini. Ia mendirikan madzhab Salamullah dan mengajarkan tuntunan tertentu kepada anak buahnya. Menurut keyakinan Islam, minimal melalui sikap sahabat Nabi, Abubakar Assshiddiq, wahyu telah terputus setelah wafatnya Baginda Rasul Muhammad. Tetapi orang nomor satu di lingkungan Salamullah ini masih mendakwakan turunnya wahyu hingga lahirlah Indonesia merdeka, ratusan tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Sebuah momentum tetapi melahirkan dua paradoks; satu menyerah dan satunya lagi menangis. Dua sifat sangat manusia. Ada yang secara berkelakar mengatakan, kalau ingin membuktikan kebenaran pengakuan Mushaddeq maka silakan bertanya kepada Jibril yang baru meninggalkan ruang tahanan itu. Sesuatu yang sarkartis. Beberapa analis melihat bahwa aparat negara, para penghulu agama, serta beberapa kelompok lainnya telah menunjukkan perlakuan yang keterlaluan terhadap para pengikut ''agama baru'' ini. Beberapa di antaranya mempersalahkan kondisi yang menyebabkan mereka bisa lahir. Mereka bilang situasi yang ada telah menyebabkan semua agama baru itu bisa lahir dengan leluasa. Malah diangkat opini soal menghukum sebuah keyakinan dianggap bukanlah kewenangan manusia. Maka dikutiplah beberapa penggal ayat suci untuk menguatkan analisisnya. Hukuman opini dijatuhkan kepada aparat negara, penghulu agama serta mereka yang selama ini dianggap umat agama tradisionalis yang antinalar. Sedang terhadap penganut ''agama baru'' ini, mereka tak menjanjikan apa-apa tentang kebenaran ajaran yang dianutnya kecuali sebuah kebebasan yang sumir.

Bagaimana ini semua bisa terjadi? Sebenarnya kalau ''agama baru'' ini tidak mengambil sikap merongrong terhadap ajaran yang telah ada, persoalannya akan menjadi lain. Memang, sepanjang bumi ini masih menjadi hunian anak manusia, maka beragam persoalan akan terus bermunculan, termasuk fenomena ''agama baru''. Sebagai umat Islam, tentu kita memiliki keyakinan yang tak bisa ditawar, bahwa Islam dengan segala tuntunannya sudah final sebagai sebuah akidah. Dan kita sudah bersumpah setia untuk menjaga keyakinan kita. Memang benar sebuah diktum yang mengatakan bahwa tidak mungkin aturan yang notabene profan buatan manusia berpretensi melindungi ajaran agama yang transendental dan datang dari Tuhan. Tetapi pranata sosial dan keagamaan tak bisa diabaikan keberadaannya untuk menjaga harmoni umat manusia. Tampaknya semua agama memiliki pranatanya sendiri-sendiri untuk membantu lahirnya harmoni di kalangan umatnya. Belum ada dalam sejarah, umat beragama hidup tanpa pranata sosial yang profan dan dibuat oleh manusia.

Nah! Bagaimana kalau seorang di antara anggota keluarga kita menghilang? Tak jelas di mana keberadaan anak kita? Menghilang karena ajaran tertentu. Menganggap orang tuanya kafir? Menjauhi rumah tempat dirinya dilahirkan karena menganggapnya najis? Memutus hubungan kekerabatan dengan semua anggota keluarganya. Tanpa merujuk kepada agama pun, kejadian semacam ini akan meluluhlantakkan harmoni di tengah sebuah keluarga. Tanpa diperintah oleh agama apa pun, kita akan mencari anak kita yang hilang. Menjadi aneh kalau ada orang tua yang bisa tidur nyenyak dan membiarkan anaknya minggat dari rumah tanpa alasan. Jangankan Tuhan yang memberikan amanah anak kepada kita, aparat hukum pun akan menanyakan kita sebab kehilangan anak. Kita harus bertanggung jawab. Apalagi kalau sampai anak kita memendam sebuah keyakinan yang aneh dengan menyebut kita sebagai bukan dari kalangannya sehingga pantas ditinggalkan untuk selama-lamanya. Duh Gusti! Kembalikan mereka yang terlalu jauh melangkah. Karuniakan hidayah-Mu. Jadikan kami, orang tua yang mampu melindungi keturunan sebagai bentuk pertanggungjawaban atas amanah-Mu. WalLaahul Muwaffiq Ilaa Aqwamith Thoriiq.

Ideologi Fasad

Oleh : Haedar Nashir


Para pemimpin dunia saling gundah tentang perubahan iklim dan alam semesta yang kian diambang kehancuran. Gundah tentang kemiskinan. Tentang tatanan dunia yang sarat dengan krisis. Tentang masa depan manusia dan seluruh makhluk Tuhan yang sedang dipertaruhkan. Tapi, sempatkan mereka berpikir dari mana asal mula kehancuran di jagad raya yang kita huni ini? Kenapa lingkungan rusak. Hutan gundul.

Bumi kian panas. Orang-orang miskin kian bertambah jumlah dan rasa deritanya. Orang-orang tak bersalah dan bangsa-bangsa yang tak berdaya kian tertindas dan menderita seperti terjadi di Palestina dan Irak. Mengapa tidak memulai berpikir dari hulu, bukan dari hilir.

Boleh jadi tahu. Bahwa kehancuran dunia dan alam semesta serta isinya di abad mutakhir ini karena ulah manusia dan sistem yang merusak, selain karena proses alamiah. Karena ulah manusia dan sistem yang diciptakannya. Namun, belum tentu para tokoh wibawa dunia itu benar-benar mampu membebaskan diri dari ulah manusia dan sistem yang merusak itu. Boleh jadi pula mereka bahkan menjadi pendukung dan bahkan pelaku perilaku dan sistem yang merusak itu.

Para aktivis lingkungan dan kalangan kritis menuding biang semua kerusakan atau kehancuran dunia ialah kapitalisme. Manusia dan sistem kapitalis, yang nafsu angkara murkanya menghunjam ke bumi dan menjulang tinggi ke langit. Para tokoh agama pun berteriak yang sama, bahwa kapitalisme globallah yang menjadi akar dan sebab kehancuran dunia saat ini.

Bahkan neokapitalisme dan berbagai ketidak-adilan ekonomi-politik global yang kini merajalela secara sistematik ke seluruh penjuru dunia, tiada lain sebagai anak kandung atau rumpun biologis dan ideologis dari dajjal kapitalisme itu. Sayap terbarunya yang tak kalah merajalelanya ialah neoliberalisme.

Namun apa daya. Para pemimpin dunia yang menentukan hitam-putihnya berbagai kebijakan di jagad raya saat ini sungguh menjadi pendukung setia dan pelaku sistem kapitalisme, neoimperalisme, dan neoliberalisme yang massive itu. Mereka adalah para pemimpin negara-negara maju, sang biang kapitalisme global. Bahkan para pemimpin dunia kedua dan dunia ketiga, termasuk Indonesia, kebanyakan menjadi satelit-satelit paling setia dari hegemoni para pemimpin dunia di negara adidaya itu. Ada negara dan pemimpin sentral, ada pula negara dan para pemimpin periferal.

Ideologi kapitalisme melahirkan nafsu dan perilaku yang rakus. Dengan mengejar keuntungan yang sebesar-sebesarnya, sistem yang satu ini memanjakan siapa pun yang mau dan mampu mengejar dan mewujudkan apa pun yang serba besar, menguntungkan, dan berlebih. Kerakusan adalah esensi dari ideologi kapitalisme. Kehancuran dan kerusakan di muka bumi ini sesungguhnya lahir dari rahim ideologi yang memang berwatak merusak dan menghancurkan.

Sistem yang memproduksi kehancuran atau kerusakan itu celakanya justru mampu memanjakan orang-orang yang melakukannya seolah-seolah membawa misi kebaikan. Masyarakat dunia, bahkan yang menjadi korban, dibuainya seolah bukan memperoleh keburukan dari sistem dan pelaku yang merusak itu, sebaliknya memperoleh berkat atau kebaikan. Inilah yang disebut ideologi kerusakan. Ideologi kehancuran, lebih tepatnya ideologi pengrusakan atau penghancuran.

Islam memperkenalkan "ideologi" penghancuran atau perusakan itu dengan istilah "al-fasad" atau "fasad" sebagaimana firman Allah dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat ke-11. Pesan Allah itu berbunyi, yang artinya: "Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi." Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.".

Di lain ayat Alquran, Allah juga menegaskan bahwa kerusakan atau penghancuran di muka bumi ini, tiada lain karena ulah tangan manusia sendiri. Manusia perusak, tidak merasa dan mengakui dirinya merusak, bahkan sebaliknya mengklaim diri sebagai pembangun. Itulah paradoks manusia perusak. Mengakui diri membangun, tetapi yang terjadi sesungguhnya merusak. Itulah ideologi fasad, ideologi perusakan atau penghancuran dunia.

Kini, ideologi fasad itulah yang mencengkeram alam pikiran dan sistem kehidupan dunia abad supermodern. Terlalu banyak contohnya. Alam dan isinya rusak karena kerakusan nafsu eksploitasi yang melekat dan jiwa kapitalisme dan bersarang kokoh pada jantung hati dan pikiran manusia-manusia pelakunya seperti para pengusaha dan pejabat yang korup. Para perusak alam dan lingkungan itu bukan mengambil sedikit, bahkan sebanyak-banyaknya demi keuntungan yang sebesar-besarnya, bila perlu dan memang sering melalui cara-cara yang haram tetapi legal.

Maka tidak mengherankan bila pembalak hutan yang merugikan bangsa dan negara, malah bebas dari hukuman karena banyak pihak yang semestinya menegakkan hukum telah dimanjakan oleh suap, sogok, dan fasilitas. Hukum tidak lagi tegak di tangan penegak hukum, malah mati-suri, tetapi semuanya berpikir sama bahwa perusak hutan dan alam itu tidak bersalah. Hingga kapan pun perusak kehidupan akan leluasa hidup di tengah sistem dan perilaku yang memberikan keleluasaan.

Ideologi fasad kini masuk ke ruang-ruang kehidupan di mana pun. Televisi katanya hadir untuk memberikan tuntunan, tetapi senyatanya banyak meracuni generasi bangsa. Merusak akidah, akhlak, dan nalar sehat. Menguras energi fitri anak-anak bangsa sejak dini, hingga mereka larut dalam setiap tayangan dari bangun tidur sampai jelang tidur kembali. Menayangkan pola hidup mewah, hedonis, seks bebas, hingga segala macam parade hidup yang tidak karu-karuan. Televisi sebenarnya telah menjelma menjadi pembunuh kehidupan generasi manusia menyamai genocide di masa lampau.

Tak mudah menghadapi ideologi fasad yang berada dalam bingkai sistem dan rezim yang kendati banyak melahirkan benih-benih kerusakan tetapi pada saat yang sama banyak memanjakan setiap orang dengan citra serba baik. Pada waktu yang sama kekuatan-kekuatan alternatif seperti agama dan para agamawan juga terninabobokan oleh sistem dasamuka itu.

Arundhati Roy pernah menyuarakan dengan lantang di India melalui karyanya The God of Small Things. Di sebuah desa di barat daya India, Kerala, justru agama selain ideologi dan negara tidak lagi kuasa melawan kapitalisme, sebaliknya menjadi bagian dari rezim raksasa itu. Agama dan kaum agamawan bahkan menjadi tidak peduli dengan derita kaum miskin dan papa; mereka justru berada dalam sistem yang membuat kaum dhu'afa dan mustadh'afin itu tetap berada dalam lingkaran sistem yang menindas dan memarjinalkan. Agama, negara, dan ideologi dunia saat ini tak mampu membebaskan kaum Sudra dari marjinalisasi sistem kasta di India, juga di belahan bumi lain.

Ekonom Jerman, Schumaker pernah menawarkan aternatif radikal: Kecil Itu Indah, Small Is Beautiful. Guna melawan ekonomi yang serba raksasa yang digerakkan oleh mesin kapitalisme dunia, diperlukan ekonomi kecil yang mampu membebaskan orang-orang miskin di muka bumi ini. Sistem yang raksasa justru harus dilawan oleh yang kecil tetapi kokoh. Melawan Golliath perlu seorang David.

Dawud (David) yang kecil, atas izin Allah dan kekuatan dirinya serta dukungan raja Thalut yang bijaksana dari negeri Bani Israil akhirnya mampu mengalahkan Jalut (Golliath) yang perkasa dari negari Amaliq. Tuhan mengabadikan kisah Dawud dan Thalut melawan pasukan Jalut itu dalam Al-Quran: "...berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah dan Allah bersama orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah{2}: 249).

Memang tak mudah meruntuhkan rezim yang raksasa, yang ideologinya telah mendarah-daging dalam denyut nadi setiap orang di muka bumi ini. Selalu ada psikologi kecemasan, kekhawatiran, ketakutan, bahkan pesimisme dan fatalisme dalam diri banyak orang yang telah berada dalam kungkungannya. Ketika Thalut membangunkan kesadaran kaumnya untuk melawan kedigdayaan rezim Jalut, kaumnya selain lemah mental juga tergiur untuk minum air di sungai padahal kala itu seharusnya dihindari. Pasukan Thalut yang telah meminum air sungai itu lantas berkata: "tidak ada kesanggupan kami untuk melawan Jalut dan tentaranya". Bahkan ketika Dawud yang diminta Thalut untuk menjadi martir melawan Jalut yang raksasa, anak muda Bani Israil ini selain dicemaskan kaumnya juga dilecehkan Jalut sebagai sosok kemustahilan.

Gerakan melawan ideologi fasad perlu dari semua jurusan. Mulailah segala sesuatu dari hulu, jangan dari hilir. Produksi pikiran-pikiran baru yang bersifat alternatif. Lakukan langkah-langkah perintisan, yang juga bersifat alternatif. Bangun sinergi dan kekuatan lintas peradaban. Tak perlu menuggu besar dan raksasa, dimulai dari kecil pun lama-kelamaan akan menjadi gelombang besar. Tak perlu menunggu janji-janji besar dunia politik dan politisi, yang menjanjikan perubahan struktural tetapi sekadar kerja-kerja pinggiran dan retorika. Kecil itu sebenarnya indah, asalkan kita meyakini dan mengembangbiakkannya dengan spirit menggelora untuk menghadirkan gerakan pencerahan dan pembebasan.

Sumber : Rephttp://www.republika.co.id/kolom.asp?kat_id=49

Kalau Cinta Bersemi di Tempat yang Salah

Oleh : KH A Hasyim Muzadi


Allah SWT adalah Lumbung Cinta Abadi. Tak ada satu pun kehendak-Nya yang tercurahkan, kecuali atas dasar cinta. Bahkan ketika Dia hendak menciptakan alam semesta, semuanya juga berasal dari cinta-Nya yang begitu agung. Maka, untuk tetap menumbuhkan rasa cinta, Dia menularkan benih-benih luhur ke jantung hati alam semesta melalui Baginda Rasul Muhammad SAW.

Melalui Sang Nabi inilah, maka meluncur deras ikhtisar cinta di bentangan dunia, khususnya di kalangan ummat manusia. Demikianlah! Nabi Muhammad merupakan sosok perlambang dunia cinta. Kelembutan hatinya, telah meluluhkan hati terdalam banyak manusia dan karena keluhuran budinya, banyak angkara murka luluh mencair. Belaian tangannya yang halus, mampu membungkam kecongkakan dunia. Sentuhannya yang tulus, menyebabkan lawan takluk tanpa merasa dikalahkan. Maka, melalui Nabi Muhammad-lah, suri teladan cinta begitu mudah ditemukan.

Kini, sebagian besar bangsa kita tengah merindukan kehadiran sosok para pecinta yang sesungguhnya. Cinta hanya dapat dirasakan kalau terjadi interaksi yang intens. Kalau menjelang wafatnya, Nabi Muhammad masih berat meninggalkan umat Islam, maka sosok seperti apakah Baginda ini?

''Ummaty! Ummaty (Umatku! Umatku!),'' demikian beliau mendesah pada detik-detik terakhir kehidupannya. Adakah cara paling menyentuh untuk menunjukkan kecintaan seseorang selain menyebut nama orang yang dicintainya, bahkan di saat ajal menjelang? Adakah pecinta seagung Baginda Muhammad? Begitu kabar wafatnya Rasulullah menyebar, semua isi alam ini menangis.

Mendung bergelayut, burung-burung saling bertasbih, para malaikat menumpahkan air mata kesedihan yang mendelam. Umat manusia seperti ditenggelamkan dalam kegundahan yang teramat sangat. Begitu Nabi Muhammad wafat, maka alam terus menerus berada dalam dunia lara duka yang tak berbatas.

Banyak cara dilakukan orang untuk menyatakan bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan dengan Sang Rasul. Mereka yang terdekat secara zaman dengan Baginda, akan selalu mamatut-matutkan dirinya dengan pola kehidupan Rasulullah. Para sahabat terdekat dan sezaman dengan beliau, juga akan meneladani serta menapaktilasi semua kebiasaan yang dilakukan Baginda Rasul semasa hidup.

Bagaimana dengan umatnya yang tak pernah bersua beliau? Bagaimanakah cara meneladani kebiasaan seseorang ketika yang dicinta tak pernah secara fisik dirasakan kehadirannya? Bagaimanakah cara mencintai seseorang yang kita tak pernah bertemu dengannya? Bahkan lukisan tentang dirinya pun tak ada? Kita sebagai umat Islam yang hidup ribuan tahun setelah kehadiran beliau di dunia ini, bisa mengadopsi bentuk-bentuk cinta Rasul melalui sirahnya yang sampai kepada kita. Bisa juga melalui keterangan-keterangan para cerdik cendekia yang sampai kepada kita serta bisa pula lewata kisah-kisah abadi tarikh masa lalu.

Kini, kita sebagai umat Islam, bagian terbesar bangsa Indonesia, tengah mengharapkan lahirnya sosok pecinta sejati. Bangsa-bangsa di dunia, begitu cinta kepada pejuang mereka, maka mereka bangun sebuah patung besar untuk mengenang kepahlawanannya. Begitu gandrungnya anak-anak kita kepada sosok pujaan mereka, tak ada ruang dinding kamarnya yang tersisa selain tempelan foto-foto bintang kesukaan mereka. Kalau anak kita menggemari sepak bola, maka gambar superstar sepak bola akan meramaikan semua sisi-sisi biliknya.

Mereka berikhtiar berperilaku seperti David Beckham, kalau mereka menyukai pemain besutan Manchester United ini. Kalau anak kita menggemari seorang penyanyi, maka kemana pun sang penyanyi ''manggung'' ia akan berusaha keras untuk bisa berdekatan dengannya. Kalau setiap saat televisi kita hanya menanyangkan sinetron yang kualitasnya tidak memadai, maka jangan harap anak kita akan meninggalkan tabung bergambar itu sebelum acara usai.

Kini, 150 juta lebih penduduk Indonesia menikmati tayangan televisi. Seperti sebuah virus, demam tontonan televisi sudah menyebar hingga ke ruang-ruang privat masyarakat. Banyak di antara anak-anak kita yang jauh lebih suka meneladani bintang pujaannya dari pada kita sendiri. Sampai kita sendiri bertanya-tanya, mau jadi apakah anak kita kelak. Banyak di antara anak-anak kita yang lebih cinta bintang kegemarannya dari pada cintanya kepada kita sebagai orangtua. Tetapi, begitu sibuknya kita dengan urusan sehari-hari, hingga kita tidak sadar sudah begitu jauh anak kita melangkah.

Menggemari seorang pujaan tentu tidak salah karena mereka tengah mencari sosok panutan sebelum mereka benar-benar menemukan jati diri. Menjadi salah, kalau anak kita sampai meniru pola hidup para bintang pujaannya, terutama yang negatif. Jujur kita akui, pada sebagian besar waktu, cinta anak-anak kita bersemi di tempat yang salah. Atau, jangan-jangan cinta kita semua, para penikmat tayangan televisi, juga mengalami hal serupa? Bersemi di tempat yang salah. Duh Gusti!

Dalam beberapa dekade terakhir, dunia tontonan yang bergejala hedonis ini, telah merasuk sangat jauh hingga ke tulang sumsun terdalam kita. Begitu menumpuknya beban masyarakat, sebagian besar karena kualitas tontonan yang yang hanya mengejar rating belaka. Makhluk macam apakah rating ini sesungguhnya, sehingga begitu kuat membius sebagian besar televisi kita?

Begitu banyak stasiun televisi yang kita miliki, tetapi begitu sedikit yang serius berkomitmen menaburkan nilai-nilai luhur kepada masyarakat penikmatnya. Betapa banyak penelitian dilakukan untuk mengukur kualitas tayangan tertentu, tetapi begitu banyak hasilnya yang menunjukkan betapa besar impact negatif yang ditularkan oleh begitu banyak acara-acara di televisi kita. Memercayakan pendidikan anak-anak bangsa ini kepada tayangan di televisi, sungguh merupakan sebuah pertaruhan teramat berani. Tentu kita tidak bisa menampik kehadiran televisi dalam kehidupan kita sehar-hari. Tetapi tentu saja kita juga harus siap memberikan daya tangkal dari anasir-anasir negatif yang ditimbulkannya.

Kalau kita cinta anak-anak kita, anak-anak bangsa ini, mari semua berkomitmen memberikan yang terbaik. Kalau kita kurang begitu yakin atas kemampuan kita karena kemampuan yang terisisa jauh lebih minim efeknya dibanding jumlah persoalan yang ada, maka cukuplah bagi kita memberikan perhatian yang serius kepada anak-anak kita. Sudah terlalu banyak survei dilakukan dan sudah begitu banyak pula penjelasan seputar dampak negatif dari serangkaian tontotan yang disuguhkan kepada kita.

Tak perlulah semua kita berhasrat membenahi semua keruwetan bangsa ini, tetapi cukuplah bagi kita mengurus satu persoalan ini dulu. Ini merupakan tanggung jawab semua anak bangsa; pemerintah sebaga regulator, pemilik televisi sebagai pemodal, pekerja televisi sebagai penanggung jawab rubrikasi, pemilik production house sebagai produser tayangan hiburan serta kita sebagai penonton.

Marilah kita segera sadar! Ini persoalan serius. Hidup kita hari ini tak lebih dari sekadar pinjaman dari sebagian hak-hak anak-anak kita. Kehidupan akan terus berlanjut, dan kehidupan anak-anak kita sudah menunggu di pintu gerbang masa depan. WalLaahu A'lamu Bishshowaab.

Sumber :http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=316526&kat_id=49

Kalau Cinta Bersemi di Tempat yang Salah

Oleh : KH A Hasyim Muzadi


Allah SWT adalah Lumbung Cinta Abadi. Tak ada satu pun kehendak-Nya yang tercurahkan, kecuali atas dasar cinta. Bahkan ketika Dia hendak menciptakan alam semesta, semuanya juga berasal dari cinta-Nya yang begitu agung. Maka, untuk tetap menumbuhkan rasa cinta, Dia menularkan benih-benih luhur ke jantung hati alam semesta melalui Baginda Rasul Muhammad SAW.

Melalui Sang Nabi inilah, maka meluncur deras ikhtisar cinta di bentangan dunia, khususnya di kalangan ummat manusia. Demikianlah! Nabi Muhammad merupakan sosok perlambang dunia cinta. Kelembutan hatinya, telah meluluhkan hati terdalam banyak manusia dan karena keluhuran budinya, banyak angkara murka luluh mencair. Belaian tangannya yang halus, mampu membungkam kecongkakan dunia. Sentuhannya yang tulus, menyebabkan lawan takluk tanpa merasa dikalahkan. Maka, melalui Nabi Muhammad-lah, suri teladan cinta begitu mudah ditemukan.

Kini, sebagian besar bangsa kita tengah merindukan kehadiran sosok para pecinta yang sesungguhnya. Cinta hanya dapat dirasakan kalau terjadi interaksi yang intens. Kalau menjelang wafatnya, Nabi Muhammad masih berat meninggalkan umat Islam, maka sosok seperti apakah Baginda ini?

''Ummaty! Ummaty (Umatku! Umatku!),'' demikian beliau mendesah pada detik-detik terakhir kehidupannya. Adakah cara paling menyentuh untuk menunjukkan kecintaan seseorang selain menyebut nama orang yang dicintainya, bahkan di saat ajal menjelang? Adakah pecinta seagung Baginda Muhammad? Begitu kabar wafatnya Rasulullah menyebar, semua isi alam ini menangis.

Mendung bergelayut, burung-burung saling bertasbih, para malaikat menumpahkan air mata kesedihan yang mendelam. Umat manusia seperti ditenggelamkan dalam kegundahan yang teramat sangat. Begitu Nabi Muhammad wafat, maka alam terus menerus berada dalam dunia lara duka yang tak berbatas.

Banyak cara dilakukan orang untuk menyatakan bahwa cintanya tidak bertepuk sebelah tangan dengan Sang Rasul. Mereka yang terdekat secara zaman dengan Baginda, akan selalu mamatut-matutkan dirinya dengan pola kehidupan Rasulullah. Para sahabat terdekat dan sezaman dengan beliau, juga akan meneladani serta menapaktilasi semua kebiasaan yang dilakukan Baginda Rasul semasa hidup.

Bagaimana dengan umatnya yang tak pernah bersua beliau? Bagaimanakah cara meneladani kebiasaan seseorang ketika yang dicinta tak pernah secara fisik dirasakan kehadirannya? Bagaimanakah cara mencintai seseorang yang kita tak pernah bertemu dengannya? Bahkan lukisan tentang dirinya pun tak ada? Kita sebagai umat Islam yang hidup ribuan tahun setelah kehadiran beliau di dunia ini, bisa mengadopsi bentuk-bentuk cinta Rasul melalui sirahnya yang sampai kepada kita. Bisa juga melalui keterangan-keterangan para cerdik cendekia yang sampai kepada kita serta bisa pula lewata kisah-kisah abadi tarikh masa lalu.

Kini, kita sebagai umat Islam, bagian terbesar bangsa Indonesia, tengah mengharapkan lahirnya sosok pecinta sejati. Bangsa-bangsa di dunia, begitu cinta kepada pejuang mereka, maka mereka bangun sebuah patung besar untuk mengenang kepahlawanannya. Begitu gandrungnya anak-anak kita kepada sosok pujaan mereka, tak ada ruang dinding kamarnya yang tersisa selain tempelan foto-foto bintang kesukaan mereka. Kalau anak kita menggemari sepak bola, maka gambar superstar sepak bola akan meramaikan semua sisi-sisi biliknya.

Mereka berikhtiar berperilaku seperti David Beckham, kalau mereka menyukai pemain besutan Manchester United ini. Kalau anak kita menggemari seorang penyanyi, maka kemana pun sang penyanyi ''manggung'' ia akan berusaha keras untuk bisa berdekatan dengannya. Kalau setiap saat televisi kita hanya menanyangkan sinetron yang kualitasnya tidak memadai, maka jangan harap anak kita akan meninggalkan tabung bergambar itu sebelum acara usai.

Kini, 150 juta lebih penduduk Indonesia menikmati tayangan televisi. Seperti sebuah virus, demam tontonan televisi sudah menyebar hingga ke ruang-ruang privat masyarakat. Banyak di antara anak-anak kita yang jauh lebih suka meneladani bintang pujaannya dari pada kita sendiri. Sampai kita sendiri bertanya-tanya, mau jadi apakah anak kita kelak. Banyak di antara anak-anak kita yang lebih cinta bintang kegemarannya dari pada cintanya kepada kita sebagai orangtua. Tetapi, begitu sibuknya kita dengan urusan sehari-hari, hingga kita tidak sadar sudah begitu jauh anak kita melangkah.

Menggemari seorang pujaan tentu tidak salah karena mereka tengah mencari sosok panutan sebelum mereka benar-benar menemukan jati diri. Menjadi salah, kalau anak kita sampai meniru pola hidup para bintang pujaannya, terutama yang negatif. Jujur kita akui, pada sebagian besar waktu, cinta anak-anak kita bersemi di tempat yang salah. Atau, jangan-jangan cinta kita semua, para penikmat tayangan televisi, juga mengalami hal serupa? Bersemi di tempat yang salah. Duh Gusti!

Dalam beberapa dekade terakhir, dunia tontonan yang bergejala hedonis ini, telah merasuk sangat jauh hingga ke tulang sumsun terdalam kita. Begitu menumpuknya beban masyarakat, sebagian besar karena kualitas tontonan yang yang hanya mengejar rating belaka. Makhluk macam apakah rating ini sesungguhnya, sehingga begitu kuat membius sebagian besar televisi kita?

Begitu banyak stasiun televisi yang kita miliki, tetapi begitu sedikit yang serius berkomitmen menaburkan nilai-nilai luhur kepada masyarakat penikmatnya. Betapa banyak penelitian dilakukan untuk mengukur kualitas tayangan tertentu, tetapi begitu banyak hasilnya yang menunjukkan betapa besar impact negatif yang ditularkan oleh begitu banyak acara-acara di televisi kita. Memercayakan pendidikan anak-anak bangsa ini kepada tayangan di televisi, sungguh merupakan sebuah pertaruhan teramat berani. Tentu kita tidak bisa menampik kehadiran televisi dalam kehidupan kita sehar-hari. Tetapi tentu saja kita juga harus siap memberikan daya tangkal dari anasir-anasir negatif yang ditimbulkannya.

Kalau kita cinta anak-anak kita, anak-anak bangsa ini, mari semua berkomitmen memberikan yang terbaik. Kalau kita kurang begitu yakin atas kemampuan kita karena kemampuan yang terisisa jauh lebih minim efeknya dibanding jumlah persoalan yang ada, maka cukuplah bagi kita memberikan perhatian yang serius kepada anak-anak kita. Sudah terlalu banyak survei dilakukan dan sudah begitu banyak pula penjelasan seputar dampak negatif dari serangkaian tontotan yang disuguhkan kepada kita.

Tak perlulah semua kita berhasrat membenahi semua keruwetan bangsa ini, tetapi cukuplah bagi kita mengurus satu persoalan ini dulu. Ini merupakan tanggung jawab semua anak bangsa; pemerintah sebaga regulator, pemilik televisi sebagai pemodal, pekerja televisi sebagai penanggung jawab rubrikasi, pemilik production house sebagai produser tayangan hiburan serta kita sebagai penonton.

Marilah kita segera sadar! Ini persoalan serius. Hidup kita hari ini tak lebih dari sekadar pinjaman dari sebagian hak-hak anak-anak kita. Kehidupan akan terus berlanjut, dan kehidupan anak-anak kita sudah menunggu di pintu gerbang masa depan. WalLaahu A'lamu Bishshowaab.

Sumber :http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=316526&kat_id=49
You Make the Difference!


Seorang walikota mengundang para penduduk di kotanya untuk menghadiri acara tahunan di pusat kota. Kota ini merupakan salah satu penghasil anggur terkemuka di seantero negeri. Karena itu, semua orang yang datang diwajibkan menyumbangkan sebotol anggur untuk dana sosial.

Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Di depan gedung pertemuan telah disediakan sebuah gentong besar. Semua tamu datang membawa sebotol anggur dan menuangkan isi botol tersebut ke dalam gentong yang tersedia.

Beberapa saat setelah pesta dimulai, panitia kota segera membuka gentong itu. Betapa terkejutnya mereka karena gentong itu ternyata hanya berisi air.

Apa yang menarik dari cerita di atas? Ternyata semua penduduk melakukan hal yang sama. Mereka hanya membawa air, bukan anggur. Mereka pikir apa yang mereka lakukan tak akan mempengaruhi keadaan. Apalah artinya sebotol air dibandingkan segentong anggur?

Cerita di atas dapat mencerminkan perilaku kita sehari-hari. Tak usah jauh-jauh. Lihatlah pemilu legislatif lalu. Berapa banyak yang memilih golput? Lebih dari 30 juta orang. Bahkan pemenang Pemilu 2004 sebetulnya adalah ''Partai Golput''. Mereka mungkin mungkin kecewa karena era reformasi belum juga menghasilkan pemerintahan yang bersih. Yang terjadi justru sebaliknya, kehidupan rakyat jadi bertambah sulit.

Orang-orang apatis macam ini senantiasa melihat diri mereka sebagai korban yang tak berdaya. Mereka melihat diri mereka ''sangat kecil'' dan melihat masalah mereka ''sangat besar.'' Pikiran semacam ini sangat berbahaya, karena membuat mereka ''semakin kecil.'' Sebaliknya masalah yang dihadapi tak berubah bahkan bertambah besar.

Ada dua cara berpikir dalam menghadapi masalah. Pendekatan pertama melihat masalah sebagai ''sesuatu yang besar.'' Orang yang berpikir begini biasanya cukup puas dengan hanya membicarakan masalah tersebut. Dalam berbagai diskusi orang tipe ini hanya mengatakan, ''Sesuatu harus dilakukan...'' Mereka tidak menempatkan diri mereka dalam situasi dimana mereka dapat melakukan suatu tindakan sendiri. Nah, kalau untuk masalah-masalah yang berkaitan langsung dengan diri kita saja kita sudah merasa tak berdaya apalagi untuk masalah-masalah yang ruang lingkupnya lebih besar seperti yang berkaitan dengan bangsa dan negara.

Padahal disinilah letak masalahnya. Seorang pengarang, Karl Heinz Pickle, mengatakan, ''Adalah munafik bila seseorang berkata kasihan, tapi tak berbuat apapun.'' Berkata kasihan saja tak pernah akan menyelesaikan masalah.

Pendekatan kedua melihat masalah sebagai ''sesuatu yang kecil.'' Masalah adalah sesuatu yang jauh lebih kecil dari pada hidup itu sendiri. Masalah justru akan membuat kita ''benar-benar hidup.'' Orang yang seperti tidak hanya mengeluh dan memikirkan masalahnya tapi senantiasa berorientasi pada solusi. Pertanyaan mereka sederhana saja, ''Apa yang bisa saya lakukan untuk menyelesaikan masalah ini?''

Inilah sebuah pertanyaan sederhana yang perlu Anda tanyakan setiap Anda mulai mengeluh terhadap masalah apa pun, sebesar apa pun. Mia Schmallenbach adalah salah satu contoh yang patut saya sebutkan di sini. Gadis berusia 15 tahun berkebangsaan Kanada dan Jerman yang pernah tinggal di Jakarta ini mempunyai cita-cita yang mulia yaitu 'menyelamatkan dunia.' Ini sebuah ide besar, tapi bagaimana caranya? Mia tidak berbicara dalam seminar-seminar yang muluk. Ia hanya mengumpulkan ide-ide praktis dan sederhana yang dapat kita mulai sekarang juga dalam bukunya 101 Ideas to Save Our World, Starting at Home.

Dengan berpikir bahwa setiap masalah kecil Anda akan makin kreatif. Terus terang saat ini saya ''agak terganggu'' dengan sebuah lembaga survei pemilu yang sering mempublikasikan penelitiannya di berbagai media cetak dan elektronik. Berdasarkan informasi yang saya miliki, saya menduga keras bahwa survei-survei yang mereka publikasikan adalah ''survei pesanan'' yang dibuat untuk memenangkan kandidat presiden yang menjadi klien mereka. Survei-survei ini muncul setiap hari di banyak stasiun TV dan dibahas oleh banyak pengamat.

Terus terang, bukan hanya akal sehat saya yang merasa dilecehkan dengan survei ini. Nurani saya pun terusik. Tapi apa yang bisa saya lakukan padahal saya bukanlah seorang pengamat politik? Setelah berpikir keras, saya kemudian memutuskan untuk mengirim surat pembaca ke berbagai media cetak terkemuka. Lepas dari berhasil tidaknya usaha ini meng-counter opini publik, paling tidak saya sudah melakukan sesuatu yang bisa saya lakukan. Dan, ini membuat saya sangat berbahagia.

Kalau Anda berpikir bahwa setiap masalah itu kecil, Anda akan semakin besar dan berdaya. Dan, Anda pun dapat membuat perbedaan. You Make the Difference! Saya teringat sebuah pesan SMS yang pernah dikirimkan adik saya. Bunyinya begini, ''Dalam situasi yang sulit jangan pernah mengatakan, ''God, I have a big problem'' tetapi katakanlah ''Hey problem, I have a Big God'', dan semua masalah tersebut akan selesai dengan baik.

Kepemimpinan
Oleh: Arvan Pradiansyah, managing director Institute for Leadership & Life Management, pengarang buku Life is Beautiful e-mail: kepemimpinan@republika.co.id faksimile: 021-7983623

Sumber :http://www.republika.co.id/suplemen/cetak_detail.asp?mid=3&id=163253&kat_id=105&kat_id1=149&kat_id2=259