Wednesday, April 16, 2008

Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager



  • Judul Buku: Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager
  • Pengarang: Dr. Muhammad Syafii Antonio, M.Ec
  • Penerbit: ProLM Centre
  • Jumlah halaman: xvi+320
  • Penulis Resensi: ISM

Muhammad is the most successful of all Prophets and religious personalities (The Encyclopaedia Britanicana)

Mengaji perjalanan hidup Rasulullah SAW adalah bagaikan mengarungi lautan yang tidak bertepi karena sangat luas, sangat kaya, dan sangat mencerahkan. Keluasan suri tauladan Muhammad SAW mencakup semua aspek hidup dan kehidupan.

Itulah pengalaman yang dirsakan Syafii Antonio ketika menyusun buku berjudul Muhammad SAW: The Super Leader Super Manager ini. Karenanya, agar pembahasan dalam buku ini tidak terlalu melebar, penulis menetapkan delapn bidang utama leadership yang akan dikaji yaitu self development atau personal leadership, bisnis dan kewirausahaan, keluarga, kepemimpinan keluarga, dakwah, sosial dan politik, sistem hukum, pendidikan, dan strategi militer.

Alhasil, inilah buku yang berhasil melihat Muhammad Rasulullah SAW dengan kaca mata baru yang lebih luas. Dalam arti bukan saja mengakui Muhammad sebagai nabi dan rasul tetapi juga menempatkannya sebagai pemilik trait of leadership dan models of management.

Berhasilkah? Sepertinya begitu. Terbukti dari komentar yang dilontarkan pakar dan tokoh yang sudah lebih dahulu berkesempatan membaca buku ini.

Simak apa yang dikatakan Ketua MPR RI, Dr Hidayat Nur Wahid. Katanya, ini buku pertama yang ditulis cendekiawan Indonesia yang mengkaitkan secara padu dan sistematis antara suri tauladan Muhammad Saw dengan disiplin leadership dan manajemen modern. "Merupakan satu pencerahan yang dinanti Indonesia dan dunia," pujinya.

Tak hanya Hidayat, seorang pembaca juga menuliskan kesan-kesan setelah membaca buku ini dalam blog pribadinya: Saya baca pelan-pelan buku sangat takjub sekali, karena isinya adalah kutipan dari sumber informasi mengenai Nabi Muhammad SAW di seluruh dunia, ada yang dari Jerman, Perancis, Inggris, China dll.

Ini merupakan "Learn How to Succeed in Business and Life from the best Example". Belajar kearifan leadership dan manajemen dari suri tauladan terbaik dalam self development, dari seorang pribadi, pedagang, pemimpin bisnis, investment manager hingga ke business owner, sebagai kepala keluarga, da'i, pemimpin sosial-politik, guru, pemimpin hukum, sebagai orang kaya, sedang maupun miskin. Baik sebagai suami ber-monogami hingga ke polygami. Baik sebagai mertua, menantu, suami yang baik, suami dari mantan budak, keturunan ningrat, janda beranak banyak, gadis, sampai dengan wanita lanjut usia.

Muhammad adalah sosok yang terlalu hebat dan luas untuk digambarkan. Buku ini mampu mematahkan stigma negatif dan nista dari para orientalis yang telah rabun jauh menilai tentang sosok Rasulullah dengan penuh distorsi fakta dan subjektivitas sepihak yang tak terpuji.

Membaca section demi section buku ini, kata seorang pembaca lain dalam blog pribadinya, saya merasa membaca buku sirah Nabi namun juga seperti membaca buku seri management aplikatif yang sederhana dan penuh motivasi.

Monday, April 14, 2008

Mengapa Ha (PKS) De (PAN) menang ?



Hasil mengejutkan di Pilkada Jabar mengentarkan dunia perpolitikan tanah air. Partai besar seperti Golkar, PDIP, PPP, dll ketar-ketir tertunduk sayu terbelalak dengan hasil pilkada Jabar. Begitupun para pebisnis survay, seperti LSI dan Puskaptis ikut tertampar karena kegagalan mereka dalam memprediksi pilkada Jabar. Pilkada Jabar, it's fenomenal.

Terlepas dari apapun pendapat media berkenaan dengan pilkada Jabar. Realitas insyaallah memastikan Ahmad Heryawan (PKS) dan Dede Yusuf (PAN) akan memimpin Jawa Barat. Semua pihak banyak tidak menyangka dua pemuda ini akan berhasil menuju Istana Jabar. Keduanya masih tergolong anak ingusan di kancak perpolitikan, atau barangkali memang hampir tidak pengalaman mengelola birokrasi. Tapi sekali lagi realitas menegaskan bahwa warga Jabar mendamba perubahan. Harapan itu tertuju pada sosok pemuda yang akrab di gelar HaDe selama masa kampanye. www.hadepisan.com

Tentu bukan hanya karena muda HaDe menang. Toh karena masih banyak muda belum berani bercita-cita besar di masa muda. Untuk menganalis lebih lanjut kemengan Hade mari kita simak bersama analisis Prof. Dede Mulyana (Guru Besar Fikom Unpad)
Dampak kampanye politik

Kampanye ketiga pasangan sebenarnya termasuk kampanye yang "primitif", termasuk iklan-iklan di surat kabar dan TV. Intinya sekadar membujuk, "Pilihlah kami!" tak bedanya dengan iklan kecap yang selalu mengklaim nomor 1. Tak ada kampanye penuh gereget, yang dapat membangkitkan emosi apalagi bawah sadar khalayak.

Pada dasarnya, dampak kampanye politik lewat media massa (dalam bentuk berita, iklan, debat politik, acara atau rubrik khusus) tidak sehebat yang diduga, mengingat khalayak yang --meminjam istilah Raymond Bauer-- "keras kepala" (obstinate). Berbagai kajian mengenai pengaruh pemberitaan kampanye politik di Barat, khususnya di Amerika Serikat, sejak penelitian yang dilakukan Paul Lazarsfeld dan rekan-rekannya di Erie County (Ohio, AS) 1940 yang klasik itu (Lazarsfeld et al., 1944), hingga penelitian di AS dan Inggris (Elihu Katz, 1989), menunjukkan bahwa kampanye politik lewat media massa tidak begitu berpengaruh untuk mengubah perilaku memilih, melainkan hanya memperteguh kecenderungan yang ada (lihat juga Straubhaar dan LaRose, 1996:428-429).

Komunikasi antarpersona, khususnya dalam keluarga, kelompok sebaya (peer group), klub, komunitas agama, dan sebagainya, ternyata lebih memengaruhi khalayak daripada komunikasi massa dalam memilih kandidat politik. Saya kira hal itu pun berlaku dalam Pilkada Jabar. Bahkan, boleh jadi peran keluarga, kerabat, kawan pribadi, guru (termasuk kiai) itu lebih besar lagi mengingat negara kita adalah negara kolektivistik dan paternalistik. Bila dalam masyarakat AS (yang menganut budaya individualistik) saja, pilihan politik seseorang masih kuat dipengaruhi pilihan politik keluarga, apalagi dalam masyarakat Indonesia yang menganut budaya kolektivistik.

Pengalaman kandidat politik bukan jaminan, jika itu tidak menunjukkan keberhasilan pada masa lalu. Da`i dan Aman terlalu biasa, terlalu mapan. Sulit untuk mengharapkan perubahan, apalagi gebrakan dari mereka. Cara memerintah bukan masalah fisik, melainkan masalah mentalitas. Dan mentalitas (konsep-diri dan pandangan hidup) sulit berubah, kecuali karena hidayah Allah dan cuci otak. Para ilmuwan sosial memahami hal ini. Maka berdasarkan kecerdasan mereka, khalayak Jabar memilih Hade dengan harapan ada perubahan, meskipun tanpa jaminan. Dengan kata lain, dari ketiga pasangan yang ada yang sama-sama "jelek", pasangan Hade-lah yang terbaik. Mekanisme kepartaian dan politik di Indonesia, juga di Jabar, memang belum mampu memunculkan para kandidat politik terbaik.

Sebenarnya, kampanye politik dapat berdampak besar jika partai politik yang mengusung kandidat punya tim Public Relations (PR) yang benar-benar ahli dan dapat merancang strategi jitu dalam berhubungan dengan media (wartawan), pengelolaan citra (kandidat dan partai politik) bagi khalayak, komunikasi internal dalam partai, dan pengelolaan informasi. Namun, jangankan dalam pilkada Jabar, dalam pilpres lalu pun saya belum melihat tim sukses kandidat yang benar-benar berhasil dalam mengampanyekan kandidat politik yang mereka promosikan.

Teori kategori sosial

Teori komunikasi massa yang diterima luas adalah teori penggolongan sosial (the Social Differentiation Theory) (DeFleur dan Ball-Rokeach, 1989: 181). Teori ini menganggap, dalam masyarakat terdapat kelompok-kelompok sosial yang tanggapannya terhadap pesan komunikasi massa cenderung sama. Prinsip ini tampaknya berlaku bagi masyarakat Jabar ketika memilih. Ini berarti, seberapa "dahsyat" Da`i dan Aman berpidato, seberapa terampil atau cerdas mereka berbicara, dan seberapa bagus kebijakan serta program politik yang mereka sampaikan. Hal itu tidak memengaruhi pilihan sebagian besar khalayak untuk mengubah pilihannya. Malah dalam debat politik minggu lalu, Hade tampil paling baik, karena berbicara kalem dan tanpa beban, sedangkan Danny agak grogi, dan Agum agak emosional. Itu semakin mendorong massa mengambang untuk menjatuhkan pilihan kepada Hade.

Dalam kampanye di media massa, kata Joseph T. Klapper (1978: 332), orang yang pandangan aslinya diperteguh ternyata jumlahnya 10 kali daripada orang yang pandangannya berubah. Kalaupun terjadi perubahan pandangan, itu merupakan peneguhan tidak langsung, dalam arti bahwa orang yang bersangkutan merasa tidak puas dengan pandangan awalnya sebelum pandangannya kemudian berubah. Dalam pilkada Jabar, kecenderungan itu juga terjadi. Misalnya menyangkut PNS atau simpatisan Golkar yang tidak lagi puas dengan kinerja Danny Setiawan yang lalu memilih Hade.

Dengan kata lain, mereka telah terpredisposisikan untuk berubah dan komunikasi massa kemudian memperteguh predisposisi tersebut serta menunjukkan jalan tertentu untuk berubah. Media massa baru efektif dalam membentuk pendapat mengenai isu-isu baru, bila individu dan kelompoknya belum punya pendapat mengenai isu-isu tersebut. Begitu opini terbentuk, maka pendapat baru inilah yang harus diperteguh. Proses pembentukan pendapat ini akan kuat sekali, bila individu tidak memiliki sumber informasi lainnya mengenai isu-isu tersebut.

Sayangnya, pembicaraan isu-isu baru ini terasa kurang diperhatikan kandidat politik atau parpol. Upaya kandidat politik atau parpol, lebih kepada pengerahan massa dan penonjolan penampilan (terutama wajah) kandidat politik. Makanya kita melihat lebih banyak foto, poster, spanduk, dan baliho yang menggambarkan wajah kandidat daripada program-program politik mereka. Kampanye mereka yang berbobot dan berisi terutama ditujukan kepada kelas menengah-terdidik dirasa kurang. Pawai di jalanan untuk mengampanyekan kandidat pun, menjadi hal yang lumrah untuk menjual kandidat atau partai politik.

Akhirnya, selamat untuk Hade!***


"It's the Voters, Stupid!"


Oleh : Budiarto Shambazy : Kompas





Kemenangan cagub/cawagub Jawa Barat, Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (PKS-PAN), menjadi sign post yang yang menunjukkan demografi politik sedang berubah. Perilaku pemilih di Jabar bisa terulang kembali tahun 2009.

Secara historis Jabar sering lebih berperanan ketimbang Ibu Kota, Jakarta. Itu sebabnya, dalam mural sejarah bangsa ini posisi politik Jabar termasuk unik.

Bung Karno dan PNI memulai karier politik di Bandung. Kota Kembang salah satu pusat studie club—selain Batavia dan Surabaya—yang merupakan basis perjuangan generasi muda di awal abad ke-20.

Rengasdengklok di Jabar adalah kota kecil yang jadi tempat persembunyian para penculik yang menyandera Bung Karno-Bung Hatta sehari sebelum Proklamasi. Lalu, siapa yang tak kenal Muhammad Toha, pahlawan peristiwa ”Bandung Lautan Api” 24 Maret 1946?

Perundingan pertama RI-Belanda berlangsung di Linggarjati, juga kota kecil di Jabar, November 1946. Historia Jabar disebut oleh puisi Chairil Anwar, Antara Karawang-Bekasi, yang antara lain berbunyi, ”Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi, tidak bisa teriak ’Merdeka’ dan angkat senjata lagi”.

Keberagaman politik Jabar tampak dari kepemimpinan di Kodam Siliwangi. Di kodam strategis ini orang Batak (AH Nasution), orang Jawa (HR Dharsono), atau orang Manado (AE Kawilarang) yang diterima sebagai panglima.

Jabar tak mengenal kutub politik kanan atau kiri karena tanah yang subur itu sejak dulu mengenal moderasi. Kadang kala Jabar mengoreksi Jakarta, tetapi tanpa pembangkangan.

Sekali lagi, hasil pilgub Jabar merupakan petunjuk penting untuk mereka-reka perilaku pemilih pada pemilu/pilpres tahun depan. Ada empat makna yang patut ditelaah.

Makna pertama, kemenangan ”Hade” (Heryawan-Dede) merupakan kehendak mayoritas yang menolak incumbent (pemangku jabatan) yang dianggap kurang berhasil. Ini fakta yang membuktikan pemilih makin hari makin rasional.

Siapa yang menyangka mereka berprinsip ”kecil itu indah”? Dua partai ”kecil”, PKS dan PAN, ternyata dianggap lebih baik daripada ”kartel partai” yang dipimpin dua partai raksasa, Golkar dan PDI-P.

Belajar dari pilgub di DKI tempo hari, PKS tentu menjadi daya tarik utama bagi para pemilih. Mungkin saja salah satu kiatnya karena kepemimpinan PKS yang bersifat kolegial demi menghindari kultus individual.

Tak mustahil sukses PKS itu didukung pula oleh sikap yang membuka diri bagi warga non-Muslim. Seperti pernah diutarakan di rubrik ini, teman saya dari etnis China yang bukan Islam kini dibujuk untuk menjadi caleg PKS.

Makna kedua, pemilih rupanya kurang peduli lagi dengan figur, ikon, atau tokoh dengan berbagai predikat politik dan kultural yang terkenal. Ingat, Heryawan bukanlah ”pesohor politisi” dan Dede lebih top sebagai pesohor daripada politisi.

Lagi pula Heryawan dan Dede masih berstatus anggota parlemen yang bukan bertugas di Jabar. Heryawan adalah anggota DPRD DKI dan Dede anggota DPR.

Artinya, mereka mungkin saja berprinsip nothing to lose ketika memutuskan ikut pilgub Jabar. Toh, andaikan gagal terpilih, mereka, ibaratnya, ”Tetap jatuh di kasur empuk”.

Berbeda kontras dengan cagub Danny Setiawan (Golkar-Demokrat) dan cawagub Nu’man Hakim (PDI-P, PPP, PKB, PDS, dan PKPB) yang berstatus incumbent. Danny adalah Gubernur Jabar, sedangkan Nu’man wakil gubernurnya.

Dan, cagub Agum Gumelar (PDI-P, PKB, PDS, PPP, PBB, PKPB) adalah tokoh berpengalaman yang beberapa tahun terakhir coba mencalonkan diri jadi gubernur DKI, Ketua KONI Pusat, bahkan wapres. Jangan lupa, ia pun bolak-balik pernah menjadi menteri.

Nah, pemilih memilih duet ”dua sipil” ketimbang duet ”sipil-militer”. Padahal, Agum jenderal purnawirawan yang cukup berakar di Jabar dan cawagub Iwan Sulandjana (Golkar/Partai Demokrat) bahkan pernah menjadi Panglima Kodam dan Kepala Staf Kodam Siliwangi.

Makna ketiga, Hade dipilih mayoritas rakyat karena berusia muda, yakni sama-sama 41 tahun. Agum dan Danny sama- sama berusia 62 tahun, Iwan 57 tahun, dan Nu’man 55 tahun.

Anda bisa membayangkan sebuah provinsi besar di republik ini dipimpin oleh dua anak muda. Ini merupakan prestasi fenomenal yang baru terjadi setidaknya sejak era Orde Baru!

Makna keempat, lebih dari 35 persen pemilih apatis karena tak menggunakan hak pilihnya karena golput. Gejala ini sebenarnya telah terlihat dari hasil akhir pilgub DKI yang juga mencatat jumlah golput lebih dari sepertiga total pemilih.

Rakyat memilih golput untuk ”menghukum” partai dan politisi. Masalahnya, apakah partai dan politisi siap membayar hukuman itu dengan menetapkan program-program sosial untuk menarik minat rakyat menggunakan suaranya kembali?

Jadi, empat makna yang hasil pilgub Jabar: rakyat menolak incumbent yang dianggap gagal dan tak peduli dengan ketokohan. Rakyat lebih suka yang muda dan memilih golput karena kecewa. So, what’s next?

Jabar merupakan lumbung suara yang amat bisa menentukan hasil akhir setiap pemilu. Gengsi politik Jabar tak kalah tinggi dibandingkan dengan Jateng atau Jatim yang sebentar lagi juga melangsungkan pilgub.

Pelajaran terpenting adalah ingatlah semboyan yang kini ngetop di AS, ”It’s the voters, stupid!”

Saturday, March 1, 2008

Sekelumit Tentang Nedi (Untuk Indralaya Post)



Nama

:

Nedi Yansah

Alamat

:

Bedeng Kades No.5 Timbangan Indaralaya Ogan Ilir 30662

:

E-mail / Friendster : akhi­­_nedisef@yahoo.com

Weblog : www.thewinnerlife.blogspot.com

www.thewinnerlife.multiply.com

HP : 0813-77806698

Tempat/tgl lahir

:

Muara Enim, 2 April 1985

Pendidikan Terakhir

:

Universitas Sriwijaya Fakultas Ekonomi Jurusan Manajemen Angkatan 2004

Hobi

:

Bertualang, membaca, dan menulis

Riwayat Pendidikan

:

SD Negeri 199 Rambang Lubai Muara Enim

SLTP N 1 Rambang Lubai

SMKN 2 Palembang

Motto

:

Menebar manfaat setiap saat

IPK (Sampai saat ini)

:

3,52

Prestasi

:

1.

Mahasiswa Berprestasi (Mapres) Unsri 2007

2.

Juara I Lomba Menulis On-Campus Jurnalistik Workshop Indo Pos 2008 dan Sampoerna

3.

Juara I I Lomba KaryaTulis Mahasiswa (LKTM) Unsri 2007 Bidang IPS

4.

Juara I LKTM FE Unsri 2007

5.

Juara II LKTM FE Unsri 2006

6.

Juara V LKTM FE Unsri 2005

7.

Juara I dan IV Lomba Merensi Laporan Seminar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia di Padang (Tim)

8.

Peringkat 8 LKTM Tingkat Wilayah A (Perguruan Tinggi Se-Jakarta, Banten, dan Sumatra), Peringkat ke 3 untuk kategori PTN Se-Sumatra

9.

Peraih Dana Hibah Bersaing berupa biaya penelitian sebesar Rp. 5 Juta pada Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKMP) 2007

10.

Juara III Pidato Bahasa Inggris pada Speech Contest di El Rahma Education Centre Palembang 2004

11.

Juara Umum I SLTP N 1 Rambang Lubai Muara Enim tahun 2000

12.

Juara Umum I SMKN 2 Palembang tahun 2003

13.

Juara II Lomba Gemar Membaca & Menulis Tk. SLTA/SMK Se-Kota Palembang tahun 2003,dll

Riwayat Organisasi

:

No.

Organisasi

Jabatan

Tahun

1.

BEM FE UNSRI

Gubernur Mahasiswa

2007-2008

2.

Forum Silaturahim Studi Ekonomi Islam Indonesia

Koord. Regional Sumbagsel

2006-2007

3.

Islamic Studies of Economics-Forum

Chairman

2006-2o07

4.

Masyarakat Ekonomi Syari’ah (MES) Sumsel

Staff. Kaderisasi dan Kemahasiswaan

2006-Skrg

5.

Badan Otonom Ukhuwah FE Unsri

Koord. Pusdatin

2005-2006

6.

Dewan Perwakilan Mahasiswa Unsri (DPMU)

Ketua Komisi A

2005

7.

KAMMI

Anggota Biasa I

2004-Skrg

8.

BEM Unsri

Staff Kementrian Sosial Politik

2004-2006

9.

Ikatan Mahasiswa Manajemen FE Unsri

Koord. Bid. Aspiratif dan Kemahasiswaan

2006

Jawaban Pertanyaan :

  1. Apa yang menyebabkan Anda dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi (Mapres) Unsri 2007 ?

Jawab : Pemilihan Mapres yang diadakan Direktorat Pendidikan Tinggi pada 20 Juni 2007 di Universitas Sriwijaya. Setelah melalui penjurian yang sangat panjang, Alhamdulillah saya terpilih sebagai terbaik ke-2 dari seluruh kontestan mapres yang mewakili fakultas masing-masing.

  1. Bagaimana pola belajar Anda sehari-hari ?

Jawab : Biasa aja, nggak ada yang spesial kok. Insyaallah, karena dukungan dan do’a banyak orang saya bisa ke pilih. Kesibukan saya di organisasi, kadang membuat saya tidak memiliki banyak kesempatan untuk belajar, sehingga hampir tidak ada perencanaan yang jelas dari sisi perkuliahan. Waktu luang kadang emang banyak, tapi karena sudah kecapaian, malas untuk belajar. Untuk menyiasati keterbatasan ini, saya punya tips tersendiri, yaitu jika mau menghadapi ujian, seminggu sebelumnya dan saat ujian, saya stop semua aktivitas organisasi, saya fokus dengan ujian.

  1. Prestasi apa saja yang telah Anda capai selama Anda menjadi Mahasiswa Unsri ?

Jawab : Terjawab di atas

  1. Apa saja yang turut mendukung Anda dalam mencapai prestasi tersebut ?

Jawab : Insyaallah, pencapaian di atas adalah karunia dari Allah SWT. Selain itu, dukungan banyak pihak, seperti orang tua, para guru, saudara, sahabat, dll memungkinkan saya untuk meraih pencapaian-pencapaian terbaik dalam hidup saya, termasuk selama saya menjadi mahasiswa Unsri. Keinginan untuk membahagian orang-orang yang saya cintai, terutama kedua orang tua adalah semangat yang senantiasa mendorong saya untuk berprestasi. Terlepas dari semua itu, pada dasarnya pencapaian saya ini adalah akumulasi dukungan banyak pihak, baik moril maupun materil. Untuk itu pada kesempatan ini saya ingin menghaturkan terima kasih kepada semua orang yang telah dengan tulus mendukung saya selama ini.

  1. Siapakah yang paling berperan dalam pencapaian Anda tersebut ?

Jawab : Siapa ya…? Semuanya berperan, tapi yang paling, Insyaallah kedua orang tua dan adik saya.

  1. Apakah yang terkadang menjadi hambatan Anda dalam berprestasi dan berkarya ?

Jawab : Hampir tidak ada. Terkadang saya berpikir finansial adalah hambatan, emang iya sih ?, karena segala sesuatu itu butuh dukungan finansial yang kuat, termasuk berprestasi itu sendiri. Tapi, terlalu naïf jika saya dan Anda berpikir demikian, karena toh keterbatasan ini seringkali menjadi dorongan kuat banyak orang untuk berprestasi dalam hidupnya. Menurut saya, hambatan utama dalam berprestasi adalah diri kita sendiri. Rendahnya motivasi diri dan ketidakmampuan memanajemen pontensi diri (IQ, EQ, SQ) seringkali menjadi hambatan utama dalam berprestasi. Pun demikian juga dengan saya.

  1. Apa saja kiat-kiat untuk menjadi mahasiswa beprestasi ?

Jawab : Berhubung Indikator penilaian dalam pemilihan Mapres antara lain; prestasi akademik, Bahasa Inggris, Karya Tulis dan Kegiatan Ekstrakurikuler. Tipsnya adalah kembangkan diri Anda dari semua sisi tersebut. Mulai semester pertama segera tuliskan pada “Buku Impian” (Action Plan = Rencana Selama Mahasiswa) bahwa Anda akan menjadi Mahasiswa Berprestasi. Setelah itu, rencanakan semua tindakan untuk mewujudkannya. Berjuang untuk meraih prestasi akademik yang baik, seperti IPK minimal cumlaude, aktif berpartisipasi dalam kegiatan dan kompetisi ilmiah, produktif menghasilkan karya ilmiah, dll. Terus berjuang meng-upgrade kualitas Bahasa Inggris, dan yang terpenting adalah berpartisipasi aktif dalam kegiatan organisasi intenal (Nadwah, BEM Unsri, dll) dan eksternal Kampus (KAMMI, Forum Lingkar Pena, Ikatan Remaja Masjid, Karang Taruna, Organisasi Kedaerahan dll). So nggak salah dong jika mulai sekarang kamu berpikir menjadi Mahasiswa Sukses Akademik Sukses Organisasi organisasi dan Bermanfaat bagi semua (Triple –ing = Studying, Organizing , and Loving).

  1. Menurut Anda, mahasiswa yang seperti apa yang sesuai untuk figur mahasiswa berprestasi ?

Jawab : Mahasiswa seutuhnya. Bukan mahasiswa, yang jadi mahasiswa karena hanya kuliah di perguruan tinggi, tapi mahasiswa yang senantiasa berusaha untuk memainkan peran dirinya, yaitu sebagai agent of change, social control, dan iron stock. Menurut saya, indikator Mapres di atas hakikatnya adalah motivasi bagi seluruh mahasiswa untuk mengoptimalkan perannya. IPK cumlaude, aktif di organisasi, fasih berbahasa inggris, dll pada dasarnya hanya simbol, bukan tujuan utama dari keberadaan mahasiswa itu sendiri.

  1. Bagaimana Anda melewatkan hari libur Anda ?

Jawab : Biasa aja, kadang bagi saya dan banyak orang, hampir nggak ada hari libur. Hari libur kadang menjadi waktu tersibuk bagi saya. Hari libur menjadi waktu spesial untuk aktivitas organisasi. Jika pun ada hari libur, biasa saya isi dengan agenda yang bersifat santai.

  1. Apa motto hidup Anda ?

Jawab : Menebar manfaat setiap saat. Filosofinya : Sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa manusia yang terbaik adalah manusia yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain. Pun saya berkomitmen untuk senantiasa mengoptimalkan karunia dari-Nya untuk kemanfaatan bagi banyak orang. Menurut saya, hakikatnya berprestasi itu adakah aktualisasi dari kemanfaatan diri bagi orang lain. Pengakuan khalayak itu pada dasarnya adalah simbol saja, bukan tujuan.

  1. Bagaimana perasaan Anda setelah dinobatkan sebagai Mahasiswa Berprestasi ?

Jawab : Alhamdulillah atas karunia-Nya.

  1. Apakah yang belum Anda capai saat ini ?

Jawab : Sangat banyak. Mengoptimalkan peran diri sebagai manusia penghuni bumi, sebagai Warga Negara Indonesia, dan sebagai orang yang dicintai dari semua yang mencintai.

  1. Kalau Anda bisa memilih Anda ingin menjadi apa ?

Jawab : Saya memiliki beberapa alternatif cita-cita, antara lain mengabdikan diri untuk mencerdaskan bangsa dengan menjadi tenaga pendidik di kampus tercinta, menghijrahkan banyak orang dari praktek perbankan konvensional ke bank syari’ah dengan menjadi bankir syari’ah, membagi kebahagian dengan banyak orang layaknya Abdurrahman bin Auf, seorang pebisnis sahabat Rasulullah SAW, terkemuka dan terutama saya ingin menjadi bagian dari kemulian peradaban umat manusia. Amiiin.

Thursday, February 14, 2008

Edelwise (Add Always)


Jum'at, 8 Februari 2008

Sekuntum "edelwise" ku damba
Buah pengorbanan jiwa
Penyata keabadian harapan
Penguat komitmen jiwa
Tuk sebentuk kehakikian cinta

Edelwise sulit benar di sua
Pa lagi di tegur sapa
Tau barangkali di senda gurau
Edelwise munkin kau hanya imaji insan

Duhai...masa..
Jangan kau putuskan asa
Jangan kau lelahkan jiwa
Gugurkan azzam yang t'lah membara
Pupuskan harapan yang t'lah mengktistal

Duhai...masa...
Kuatkan diri dengan istiqomah
Tegarkan diri ini dengan taqwa
Biar nanti saat ku jumpa dia
Tak sedikit pun bersitkan kecewa
Yang ada hanya syukur bahagia

Duhai...edelwise
Benarkah kau pertanda keabadian
Benarkah juga kau perlambang cinta
Sebagaimana yang mereka sepakatkan...
Tentangmu
Edelwise


Sementara waktu...

Telah beberapa masa sang waktu berlalu. Kurun waktu pun telah berganti. Ada rasa ingin untuk kembali ke masa silam. Namun hari depan datang begitu lantang. Menggoreskan cita dan cinta dengan kecemerlangan.

Sang waktu begitu berarti. Pepatah Arab menyata "Sang Waktu laksana tebasan pedang". Tak kan mampu kembali karena nyawa telah melayang. Si kulit putih pun membilang "Sang waktu adalah uang". Sebuah kerugian yang sangat, ketika membiar waktu berlalu dengan kesiaan. Menurut saya, Sang waktu adalah manfaat dan maslahat. Sebuah kewajiban untuk menjadikan sang waktu senantiasa memberi manfaat dan maslahat bagi diri dan semua hal yang berkenaan.

Sang waktu adalah barometer kualitas diri. Rentang yang memberi peluang untuk dimanfaatkan. Ruang yang disana terhampar begitu banyak harapan. Rentang pembeda antara diri dengan orang seberang. Ruang penyikap antara cita dan realita. Sang waktu yang akan mengungkap semua. Menurut Anda, apakah sang waktu itu?


Sang mentari mulai memuncak, pendakian pun mulai menanjak...

Sang mentari mulai memuncak. Sebentar lagi sepetinya akan tenggelam. Terbuai dalam pekatnya awan. Tenggelam dalam gelapnya mega. Sepertinya pertanda pergantian masa pun akan terjadi. Seirama perjalanan sang waktu, pendakian mulai memuncak. Detak arloji menyaji sensasi, menunjuk bahwa sebentar lagi siang kan pergi. Mengertak agar kami cepat mendaki.

Shelter 1....

"Jika sampai di atas jangan lupa bawain
kami bunga edelwis dan bunga panjang umur ya".....by : friend

Edelwise, kata itu menyeruak diungkap salah seorang saudara pendaki. Ternyata juga diamini oleh pendaki lain. Dia mengutara, dia juga mendapatkannya. Begitulah munkin momentum sang edelwise menjadi sub tema perjalanan. Terbersit di imaji, tercetus dalam lisan tuk memperindah perjalanan dengan mengungkap misteri edelwise.

Kata mereka edelwise adalah sejenis bunga. Edelwise hanya tumbuh kembang di ketinggian. Edelwise mungkin juga ada di puncak pendakian yang kami tuju. Kuntum Edelwise mungkin juga bisa dipetik disana. Edelwise sangat dicari oleh para pendaki. Diharap untuk dipetik oleh mereka. Namun kurun masa menyata edelwise sulit ditemui.

Kata mereka Edelwise adalah perlambang keabadian cinta. Keabadian yang tak kan mampu terkikis oleh masa. Keabadian yang tak mampu ditelan ruang. Keabadian yang menjanji sehidup-semati. Layaknya keabadian romantisme kisah cinta "Romeo-Juliet". Seperti keabadian komitmen cinta "Laila-Majnun". Edelwise begitu melegenda. Memabuk kepayang para 'Climber" tuk merengkuhnya. Menyemangati para "Climber" tuk mempersembahkannya pada orang tersayang. Dengan lantang "Climber" membilang "Sayang ku persembahkan Edelwise ini sebagai perlambang komitmen cinta ku padamu". Sebagaimana "Ikal" yang telah mendaki puncak belitong hanya untuk mempersembah sesuatu tuk 'Si Aling" tersayang. Edelwise ternyata sensasimu begitu melegenda.

Edelwise, sebenarnya apakah dirimu ....

(Bersambung"

Sambungan….

Sejenak aku pun tertegun. Sebegitu melegendanya Edelwise. Banyak orang membuah-bibirkan ceritanya. Ceritanya seperti telah menelusuk dalam relung pikir dan imaji banyak orang. Banyak pikir orang yang terbuai dan termatikan logikanya ketika berbicara tentangmu. Banyak imaji yang melambung mengangkasa hingga lepas control diri, karena ceritanya. Tak terkecuali juga diriku.

Anganku tak sadar ikut melayang. Bersit penasaran mendalam tuk gali lebih tentangmu. Bersitku memantik logika tuk menguak arti dari keberadaanmu. Aku pikir banyak orang yang salah mengerti hakikat ceritamu.

Kemarin aku bertemu dengan Si Anak Gunung. Dia kebenaran adalah orang yang telah akrab dan banyak tahu tentangmu. Aku bertanya pada dia, benarkah apa yang telah mereka bilang. Benarkah kau perlambang keabadian cinta. Benarkah kau media curah rasa bagi para insan yang kasmaran. Kasmaran tuk menyata pendam gelora membara dalam diri pada seseorang yang selama ini didamba. Uereka…ternyata apa yang dinyata oleh Si Anak Gunung tak berbeda dari apa yang kebanyakan orang tahu tentangmu.

Kau perlambang perjuangan dan cinta. Kau menjelaskan kasmaran yang menggelora. Kau menjelaskan tekad kasih yang membaja. Kau menjelaskan perlambang pengorbanan cinta. Aku pun berkesimpulan, edelwise adalah sekuntum ikatan kasih perlambang buah pengorbanan untuk mengalamatkan ketidakdewasaan gundah kebendaan pada seseorang yang didamba. Anda pasti bingungkan. Sama saya juga bingung dengan apa yang saya pikirkan. Tapi ada satu kesamaan persepsi berbicara tentang edelwise berarti berbicara tentang cinta dan pengorbanan.

Edelwise, cinta, dan pengorbanan

Cinta adalah luapan psikis yang banyak orang salah mengerti tentangnya. Salah mengerti yang mematikan logika banyak orang. Pun edelwise menjadi bentuk ketidakdewasaan menyikap dan mengekspresi hakikat cinta itu sendiri. Pun Anda saya yakin juga pernah mentertawakan betapa Anda begitu tak menyangka Anda begitu tak berarti dihadapan cinta. Saya mau bertanya pada Anda pernahkan anda merasakan jatuh cinta, pada seseorang? Pasti pernah. Bagaimana rasanya, tak usahlah kita mencari jawabannya, karena tiap orang jawabannya rata-rata sama.

Banyak orang menyata ketika sedang dimabuk cinta, rasanya suasana begitu indah dan berjuta rasanya. Dunia serasa berseri, setiap orang dirasakan ramah, alam di sekelilingnya terasa indah. Katanya orang yang sedang fall in love itu tiap hari harus ketemu, kemana-mana harus sama-sama kalau sekali tak bertemu rindunya setengah mati, yang pasti dunia serasa milik berdua yang lain ngontrak. Mereka nggak peduli dan nggak mempedulikan orang lain, yang penting mereka senang. Yang diingat hanyalah dia....dia....dan dia.

Sebenarnya apa sih pertanda cinta itu. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalam bukunya yang berjudul Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu menjelas tanda cinta adalah sebagai berikut, pertama biasanya ia selalu menghujamkan pandangan matanya pada orang yang dicintainya, kedua malu-malu jika orang yang dicintainya memandangnya. Ketiga ia akan banyak mengingat, membicarakan dan menyebut nama orang yang dicintainya. Kemudian ia tunduk pada perintah orang yang dicintai dan mendahulukan kepentingannya daripada kepentingannya sendiri. Lalu orang yang mencinta bersabar menghadapi gangguan orang yang dicintai, memperhatikan perkataan orang yang dicintai dan mendengarkannya, mencintai tempat dan rumah sang kekasih, segera menghampiri yang dicintai bila dipanggil. Beragam alasan di atas, semakin mendukung hipotesis Agnes Monica bahwa cinta memang tiada logika. Sepakatkah Anda ? Belum

Selanjutnya ia akan ikut mencintai apapun yang dicintai sang kekasih. Jika akan mengunjungi orang yang dicintai jalan yang dilalui terasa pendek meskipun jaraknya jauh sekali. Dan biasanya ia akan salah tingkah jika sedang mengunjungi atau sedang dikunjungi orang yang dicintai. Lalu ia akan kaget dan gemetar tatkala berhadapan dengan orang yang dicintai atau tatkala mendengar namanya disebut. Jika ada orang lain yang membahasnya ia akan merasa cemburu. Menyenangi apapun yang menyenangkan orang yang dicintai meskipun sebenarnya kita tidak menyukainya. Ini merupakan salah satu keharusan karena sedikit berkorban untuk mendapatkan keridhaan orang yang dicintai, rasanya merupakan kewajiban.

Ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta selain yang disebut diatas adalah ia akan mempunyai kebiasaan baru yaitu suka menyendiri dan helaan nafas panjang yang kerap dilakukan. Dan tentunya ia akan selalu berusaha untuk menghindari hal-hal yang akan meregangkan hubungan karena yang dicari pastilah kecocokan antara orang yang mencintai dan orang yang dicintai. Gimana pernahkah Anda mengalami ini ? Jika Anda pernah merasakan itu, maka berhati-hatilah. Cinta bisa menjadi penyebab lahirnya petaka. Nggak percaya ?

Cinta yang mematikan logika akan berdampak matinya hati. Sang pencinta adakalanya menjadi lupa diri. Ketika tak mampu mengendalinya bisa jadi cinta menyesatkan sang pelaku pada kesyirikan. Kesyirikan yang terlahir, karena bangkitnya cemburu dari Allah, Sang Pencipta Insan Pencinta, ketika cinta tak mampu ditempat pada tempat yang diridho-Nya. Cinta yang mendua. Cinta yang membuat kita seringkali menomorduakan Allah dari orang yang dicinta. Tampak sikap ini, ketika buah sikap cinta kita begitu lucu di rasa. Ketika dia memanggil, kita begitu cepat bersegera. Tapi ketika Dia (Baca: Allah SWT) memanggil kita bersikap ala kadarnya.
Sudahkan kita benar-benar cinta pada-Nya ?

Kalau jatuh cinta pada sesama manusia ada keinginan dari kita agar orang lain mengetahuinya. Ingin rasanya diberitahukan pada semua orang tentang apa yang sedang terjadi pada kita. Biar semua orang tahu kalau kita sedang jatuh cinta. Akankah sama ceritanya jika sedang jatuh cinta pada Allah. Rasanya tidak. Jika sedang jatuh cinta pada Allah, rasanya kita akan malu untuk mengakuinya apalagi sampai orang lain tahu. Kita akan sangat egois untuk tidak berbagi cerita pada yang lain.

Lalu berapa banyakkah dari mereka yang pada saat fall in love selain mengingat dia (kekasih) juga mengingat Allah? Berapa banyakkah dari mereka yang menyadari bahwa jatuh cinta merupakan anugerah besar yang harus disyukuri? Jika saja setiap orang yang sedang jatuh cinta pada sesama manusia dan mengalami tanda-tanda seperti tadi, merasakan dan melakukan hal yang sama pula dengan ketika ia jatuh cinta pada Allah Rabbul 'Alamin, subhanallah, Mahasuci Allah yang telah memberikan cintanya pada manusia dengan memberikan anugrah berupa rasa cinta.

Cinta itu laksana pohon di dalam hati. Akarnya adalah ketundukan kepada kekasih yag dicintai, dahannya adalah mengetahuinya, ranting-ranting adalah ketakutan kepadanya, daun-daun adalah malu kepadanya, buahnya adalah ketaatan kepadanya dan air yang menghidupinya adalah menyebut namanya. Jika di dalam cinta ada satu bagian yang kosong, berarti cinta itu kurang. Allah telah mensifati Diri-Nya, bahwa Dia mencintai hamba-hamba-Nya yang mukmin dan mereka pun mencintai-Nya.

Sesungguhnya, kecintaan pada Allah pasti bisa menyelamatkan orang yang mencintai-Nya dari adzab dan semestinya pula seorang hamba tidak mencoba-coba mengganti cinta hakiki itu dengan yang lainnya. Pun menempat edelwise sebagai pertanda cinta adalah hal yang patut dihati-hati. Pa lagi menyata edelwise perlambang keabadian adalah sebuah kenaifan. Kehakikian dan keabadian cinta hanyalah milik-Nya. Sedangkan kecintaan insan adalah muara kealpaan. Menyinari cinta insan dengan cinta-Nya adalah kehakikian cinta itu sendiri.
Meraih edelwise butuh perjuangan. Mendapat edelwise adalah perjuangan itu sendiri. Perjuangan harganya adalah pengorbanan. Butuh banyak tetes keringat untuk meraihnya. Tak terhitung lelah yang harus dilepas untuknya. Menakluk ketinggian ribuan kaki di permukaan laut, tertusuk dinginnya angin gunung, terasuk cekamnya kobar angin, peluang tergelinding dalam curamnya jurang, atau pun terhempas pada kerasnya cadas adalah cukup alasan tak menakluk ketinggian pendakian. Tetapi untuk sebentuk cinta, pengorbanan adalah hal yang dirasa biasa. Keberanian berkobar begitu membara. Pengorbanan yang diniat bukan karena edelwise, tapi pengorbanan yang diniat karena-Nya. Pengorbanan yang dilaku bukan untuknya, tetapi diniatkan karena-Nya. Wallahua'alam




Sunday, January 27, 2008

Antara Duka Gaza dan Cendana


Oleh : Nedi Yansah

Tepat pukul 13.10 WIB Minggu, 27 Januari 2008, sakaratul maut menjemput Mantan Presiden Soeharto. Sedih bergelora pilu tentu menggenapi seluruh Bangsa Indonesia. Dari Sabang Merauke, para tetua dan pemuda bangsa ini tentu merasa kehilangan yang sangat. Kepergian Sang Fenomenal, tentu fenomenal pula penyikapannya. Kepergian seorang Jenderal Besar, yang oleh MPR dianugerahi penghormatan sebagai Bapak Pembangunan Nasional, tentu tentu adalah peristiwa bersejarah berkesan bagi bangsa dan dunia. Semarak media massa pun semakin mengandakan kesedihan Bangsa Indonesia.

Genap duka itu pun semakin gempita, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengumumkan kematian Mantan Presiden Soeharto sebagai hari belasungkawa nasional. SBY pun turut mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk mengibarkan bendera setengah tiang sebagai bentuk penghormatan dan duka cita atas kepergian Mantan Presiden Soeharto. SBY pun turun untuk meredam duka bangsa dan menyatakan bahwa bangsa ini harus mengikhlaskan kepergian Mantan Presiden Soeharto.

Tentu, yang paling berduka dengan kepergian Mantan Presiden Soeharto adalah pihak keluarga yang ditinggalkan. Cendana adalah rumah duka yang menjadi pusat sungkawa segenap anak bangsa. Prosesi duka pun tergelar dengan apiknya. Teknis gerak penyelenggaraan jenazah menjadi begitu birokratisnya. Detik gerak perjalanan jenazah pun menjadi momen yang paling di sorot. Jalur perjalanan dari Rumah Sakit Pertamina, Cendana, dan Istana Giri Bangun menjadi begitu special. Semua tatap memusat. Semua media berebut mengungkap detik kedukaan kepergian Mantan Presiden Soeharto. Sungguh sebuah gelaran fenomenal. Tentu itu bukanlah sebuah kesalahan, karena memang sebegitulah layaknya bentuk penghargaan bangsa ini atas semua jasa besar beliau. Atau barangkali gegap prosesi dan tumpah ruah simpati seluruh anak bangsa tidak sebanding dengan jasa beliau. Terlepas dari adanya kekhilafan selama perjalanan kepemimpinan beliau.

Terlepas dari prosesi duka bangsa Indonesia ditinggal pergi Mantan Presiden Soeharto, nun jauh disana di bumi para nabi, di Negeri Palestina ada juga duka yang bergelora. Duka jutaan rakyat Palestina, khususnya penduduk Gaza di bawah kekajaman imperialisme penjajah, Zionis Israel. Duka ribuan wanita yang harus menjadi janda. Duka ribuan anak yang harus menjadi yatim atau piatu, atau barangkali juga yatim piatu. Duka yang menahun, bukan duka instant yang mungkin sedang dirasakan Bangsa Indonesia.

Duka Rakyat Palestina pun kini sedang memuncak. Duka yang bercampur cekam dan geram atas kebiadaban Israel memblokade Jalur Gaza. Semua sarana dan prasarana lumpuh. Bahan pangan, energi penerang menjadi hal yang langka. Jalur Gaza menjadi kota yang tak layak huni. Jalur Gaza menjadi kota yang tidak bersahabat lagi bagi kehidupan. Jalur Gaza menjadi Sungguh jauh berbeda dengan negeri kita.
Jikalau seandainya Indonesia adalah Palestina, atau barangkali juga Jakarta adalah Jalur Gaza. Tentu prosesi duka itu pun sama dengan kini yang sedang menimpa bangsa. Prosesi duka anak-anak yang menagis karena lapar dan kedinginan. Prosesi para isteri yang begitu menderita karena sakit namun tak bisa membeli obat. Detik perjalanan yang begitu akrab dengan rakyat Gaza yang begitu lemah dan bernyakitan. Tidak mempunyai uang untuk membeli makanan, dan obat. Namun pun ketika berusaha menuju rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, engkau melihat pemandangan yang lebih mengiris hati. Karena ada ratusan orang yang sudah lebih dahulu tiba dan menanti pengobatan dari rumah sakit. Anak-anak, kaum perempuan, orang-orang tua. Mereka semuanya menunggu pengobatan. Tapi tak ada obat. Tidak ada sarana pengobatan, karena listrik sudah terputus dan mereka semua berada dalam gelap.
Pemandangan duka yang terjadi di Palestina sesungguhnya mendobrak ingatan kita tentang relung empati bangsa Indonesia yang hilang, Diamnya Indonesia yang notabene-nya memiliki penduduk muslim terbesar di dunia, mengambarkan begitu keringnya ikatan ukhuwah islamiyah. Memang kepergian Mantan Presiden Soeharto telah menghadirkan kedukaan yang mendalam pada segenap bangsa ini. Tetapi juga, itu bukan berarti kedukaan kita melupakan bahwa ada bagian dari manusia di muka bumi ini yang membutuhkan empati kita. Atau barangkali kepergian Mantan Presiden Soeharto dapat menjadi momentum bangkitnya peduli kita terhadap derita penduduk palestina, khsususnya penduduk Gaza. Jikalau dunia dan para pejaung HAM internasional terdiam, apapun. Apakah juga kita harus diam? Jikalau dengan ditinggalkan oleh seorang Mantan Soeharto bangsa, baik itu pemerintah maupun rakyat ini begitu pedulinya? Mengapa dengan derita kemanusian di penduduk Gaza kita belum melakukan apa-apa?

Pemerintah sepertinya akan terlambat atau barangkali telah hilang nyalinya untuk mengutuk kebiadan Israel atas kejahatan kemanusiaanya di Jalur Gaza. Mantan Presiden Soeharto tentu akan sangat bersedih jikalau tahu sedu sedan kepedihan anak bangsa ini habis hanya menangisi beliau. Tindakkan nyata Soeharto terhadap Bosnia adalah prestasi peduli atas nama kemanusiaan. Soeharto telah melahirkan keteladanan, tentu jikalau kita cinta dengan beliau melakukan kebaikan yang dicontohkannya adalah bentuk konkrit kecintaan. Membuka ruang empati untuk Palestina, khususnya penduduk Gaza, pastilah sebuah kebanggaan bagi Mantan Presiden Soeharto. Mari kita jadikan momentum kepergian Mantan Presiden Soeharto untuk peduli dengan kemerdekaan bangsa lain, sebagaimana termaktub dalam kesepakatan para Founding Fathers..
Penulis : adalah Gubernur Mahasiswa BEM FE UNSRI (e-mail: akhi_nedisef@yahoo.com:
Hp (0813-77806698)