Tuesday, December 4, 2007

"SERUAN AKSI SAMBUT HARI INTIFADHOH SE-DUNIA"

As. Wahai...Seluruh Manusia, Saudara-ku seiman, Sesama kader dakwah kampus, Sesama kader KAMMI. Mari bersama hadirkan kepedulian kita dengan hadir
"Aksi Peduli Palestina"
Jum'at 7 Desember 2007 Pukul 08.00 di Timbang Indralaya Ogan Ilir.
Kehadiran adalah Kepedulian
Wassalam

Palestina, Permasalahan yang Tidak Akan Pernah Mati


Oleh : DR. Muhammad Mahdi Akif


Segala puji hanya miliki Allah, shalawat dan salam atas Rasulullah SAW dan orang-orang yang mendukungnya…


Permasalahan Palestina dalam sejarahnya yang panjang hingga saat ini berada dalam kondisi yang sangat memprihatinkan dan dalam pandangan musuh - Arab dan kaum muslimin - saat ini merupakan waktu yang tepat untuk melakukan perang yang sesungguhnya guna menyelesaikan permasalahan dan mendapatkan kekuasaan baru serta mengakhiri mimpi jutaan para pengungsi untuk kembali ke negeri mereka, yaitu dengan memberikan warga - yang tidak memiliki hak - untuk menempati dan tinggal di daerah jajahan, mereka menghalalkan segala cara dalam menumpahkan darah, melecehkan kehormatan dan merampas harta setelah terlebih dahulu menguasai tanah dan Al-Quds.


Sebenarnya permasalahan Palestina bukanlah milik perseorangan dan bukan pula milik satu lembaga dan kelompok, dan bukan milik satu pemerintahan – walaupun ada yang mengklaim demikian - sehingga berhak mengabaikan hak-hak warga yang disyariatkan bagi bangsa dan rakyat Palestina.


Namun sesungguhnya permasalahan Palestina merupakan permasalahan umat. Bangsa Arab dan umat Islam di seluruh dunia, jika sebagiannya diabaikan oleh karena semangat yang lemah, pengecut dan putus asa menyebabkan terkungkungnya jiwa-jiwa dari waktu ke waktu yang pada akhirnya mengalami kekalahan, karena umat cepat atau lambat akan melakukan perlawanan (intifadhoh), rakyat Palestina akan segera bangkit guna menggagalkan proyek-proyek perdamaian dan persamaan hak yang dilakukan oleh para pemimpin masing-masing, seperti yang terjadi sebelumnya terhadap proyek jual beli bangsa Palestina oleh musuh Zionis, sehingga rakyat Palestina hanya seperti ular di tengah berjuta manusia dari umat Islam, permasalahan yang tidak akan pernah surut; sehingga rakyat Palestina mendapatkan kembali hak-hak mereka yang sah, mendapatkan kembali bumi mereka yang telah dirampas, mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan bumi yang disucikan umat Islam dan umat Kristen dari tangan-tangan kotor dan dzalim.


Bagi mereka yang memiliki mata jernih dan akal yang cerdas akan mengetahui bahwa muktamar “Anapolis” yang akan datang – yang belum ditentukan waktunya, tidak memiliki agenda dan program-programnya yang jelas, bahkan tidak ada arahan yang jelas pada undangan tersebut – tidak akan menghasilkan apa-apa untuk kemaslahatan rakyat Palestina, dan tidak mampu mewujudkan cita-cita mereka, namun bisa jadi rakyat Palestina akan terus menghadapi sendiri koalisi strategi dan kuat antara Zionis dan pemerintah Amerika yang selalu merestui tindakan-tindakan yang dilakukan oleh Zionis, dari sini akan ada nantinya tekanan yang kuat terhadap rakyat Palestina untuk menyampaikan proposal menuntut untuk mendapatkan kembali hak bumi Al-Quds dan bumi Palestina, tanpa menghasilkan apapun, kenapa harus menghadiri? Untuk kemaslahatan apa keikutsertaan muktamar?!!


Seruan untuk mengadakan muktamar lahir atas keinginan Amerika untuk kembali menata lokasi dan melakukan perang baru yang berkepanjangan, perang terhadap Islam dan Arab yang menghalangi dan membangkang strategi baru di bumi Palestina, Lebanon dan Iraq, perang tersebut hanya untuk kepentingan Zionis. Padahal mereka bersikeras menjaga stabilitas dan meningkatkan strategi, menentang setiap seruan dari para pemerintah Arab, sekutu Amerika dan Negara-negara yang berada di lokasi. Jadi kenapa harus selalu mengekor pada konsep Zionis Amerika, padahal hal tersebut dapat melemahkan diri kita dan memberikan peluang besar terhadap kepentingan musuh?!!


Bahwa yang diinginkan warga Palestina dan Arab saat ini adalah persatuan Palestina, persatuan Arab, dialog yang sungguh-sungguh dan ikhlas; untuk melakukan strategi baru menuntaskan hak-hak Palestina yang sah, setelah mengalami kegagalan usaha perdamaian, dan menemui jalan buntu, meghilangkan keraguan dan merealisasikan cita-cita dengan cara adil dan seimbang.
Arab dan umat Islam memiliki banyak bukti sehingga dengannya mereka mampu menekan untuk; pertama, menghentikan arah penguasaan, kedua, penelaahan kembali agenda tahun-tahun sebelumnya sehingga mencapai gambaran real untuk mendukung perlawanan rakyat Palestina, persatuan Negara dalam menghadapi serangan Zionis dan menghadapi blockade Amerika yang buta terhadap musuh Zionis.


Gambaran yang jelas saat ini, munculnya suara-suara yang menginginkan penyelesaian dari berbagai sisi – sampai mereka yang baru memulai perdamaian - memperingatkan dari terperosok pada musyarakah (partisipasi) pada muktamar “Anapolis”, dan menyeru untuk tidak pergi kesana. Sementara itu, Zionis mengumumkan bahwa agenda muktamar adalah keamanan dan menjaga stabilitas yang akan direalisasikan sesuai dengan kepentingan rakyat Palestina dari yang lainnya. Padahal tidak ada perundingan yang sunguh-sungguh sehingga menjadi solusi akhir, tidak ada agenda perundingan yang jelas yang dapat direalisasikan, dan tidak ada proposal yang hakiki yang sempurna yang akan diajukan untuk kemaslahatan rakyat Palestina, sementara Amerika mengumumkan dukungan mereka pada syarat-syarat Zionis, bahwa mereka tidak akan menerima usulan lain kecuali kehadiran pada muktamar, dan akan meninggalkan rakyat Palestina menghadapi terkaman serigala Zionis tanpa dukungan sedikitpun dari Arab atau Islam, dan tanpa dukungan pemerintah. Dan dalam hal pembagian bumi Palestina yang di dalamnya menyebabkan seorang tentara Amerika Dayton yang masih menumpahkan minyak di tengah api; agar terus terjadi pemisahan warga Palestina. Apakah kita akan berdiam diri dan menutup mata sementara mata kita bisa dibuka?! Apakah kita akan menyerah di hadapan musuh-musuh kita, akankah kita akan terus tertidur sehingga menambah lebarnya luka, menghancurkan cita-cita persatuan dan dialog rakyat Palestina untuk mengembalikan persatuan negeri Palestina?!!


Kita akan terus mengulang seruan ini, kepada warga Palestina yang ikhlas, warga Arab dan umat Islam, bangsa dan para pemimpinnya, dan kepada seluruh lembaga-lembaga umat, kekuatan yang masih berdenyut dalam urat nadi kehidupan, meninggikan suara guna memberikan peringatan dari mengikuti acara muktamar yang tidak jelas, menyeru untuk mengajak rakyat Palestina dan warga Arab, agar tidak mau tunduk terhadap undang-undang apapun, membatalkan segala perjanjian yang disodorkan yang mengenyampingkan dan merendahkan hak-hak warga Palestina yang berhak untuk kembali ke negeri mereka, kemerdekaan Quds dan masjid Al-Aqsho, mengembalikan bumi Palestina dan menghentikan secara bersama-sama agenda dan rencana yang disampaikan untuk bersepakat dengan musuh Zionis atas bangsa Palestina dan hak-haknya yang sah.


Kita berjanji kepada Allah untuk menaungi dan menepati janji demi kemaslahatan warga Palestina, permasalahan Arab dan Palestina. Berkorban dengan harta dan jiwa guna mengembalikan hak-hak kita yang telah dirampas, bekerja demi persatuan dan kesatuan shaf bangsa Palestina; melalui dialog yang jernih, berjihad agar umat mampu bangkit melalui kewajiban syar’inya, baik para pejabat dan rakyat; memberikan seluruh hak warga Palestina yang sah dan menghentikan segala penghalang terhadap usaha kesepatakan bersama musuh.


Qadhiyah Palestina akan terus hidup dalam jiwa kita dan tidak akan mati, dan hak warga Palestina akan kembali walau dengan pengorbanan anak-anak Palestina yang tidak berdosa, dan kelak akan mendapatkan kemerdekaan walau dengan darah para syuhada yang teguh berjihad, adapun setiap makar yang ditujukan pada Palestina niscaya akan hancur sehancur-hancurnya.
Dari Abi Umamah berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Akan muncul sekelompok dari umatku yang tegas, tegas terhadap musuh mereka dan tidak gentar terhadap orang yang berbeda dengan mereka kecuali ada musibah yang menimpa mereka sehingga datang keputusan Allah sementara mereka masih dalam kondisi demikian”. Mereka berkata: Wahai Rasulullah SAW, di manakah mereka berada?! Beliau bersabda : “Di Baitul Maqdis, dan di tengah Baitul Maqdis”.
Shalawat dan salam atas pemimpin kita Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabat, dan al-hamdulillahirabbil ‘alamin.

Sunday, December 2, 2007

Prediksi Munculnya Segitiga Kekuatan Politik Jawa Barat


Oleh : M. HUSIN AL-BANJARI

RENTANG 2005-2008 Jawa Barat akan menggelar sebanyak 26 pilkada kabupaten/kota dan satu pilkada provinsi. Pertanyaannya adalah partai-partai mana saja akan memenangkan pertarungan itu dan bagaimana kira-kira komposisinya?

Golkar, PDIP, dan PKS adalah tiga partai yang dianggap sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Komposisi ini setidaknya telah diprediksi oleh majalah Van Zorge Heffernan. Lalu bagaimana tiga partai ini berebut pengaruh? Artikel ini mencoba membuka cakrawala politik Jawa Barat ke arah itu.
Dalam tatapan pertama, orang akan menghitung posisi strategis incumbent. Partai Golkar dan PDIP yang saat ini sudah eksis menjadi kepala daerah di beberapa kabupaten/kota, tentu akan berusaha mempertahankan posisinya.

Secara matematis, kemungkinan pememang pilkada dapat diperkirakan dari partai-partai yang unggul perolehan suaranya pada Pemilu Legislatif 2004. Misalnya, jika kita gunakan data perolehan suara DPRD provinsi Jawa Barat, maka dari 11 daerah pemilihan (DP) di Jawa Barat terdapat 6 partai politik yang masuk tiga besar. Sedangkan yang masuk ke dalam dua besar terdapat 4 partai, dan hanya 2 partai yang menjadi pemenang (nomor 1).

Hasil Pemilu 2004 menunjukkan, tiga partai secara kuantitatif menonjol yaitu Golkar, PDIP, dan PKS. Apakah benar tiga partai ini yang diprediksi akan mendominasi kemenangan pilkada-pilkada di Jawa Barat? Pilkada Kota Depok (26/6) dan Kabupaten Sukabumi (27/6) akan segera memberikan jawaban awal, apakah prediksi tersebut ada benarnya.

Segitiga kekuatan

Seperti disebutkan di awal, munculnya tiga kekuatan politik sebagaimana disebut di atas, bagi sebagian pengamat tentu tidaklah mengherankan. Bahkan enam tahun silam (tepatnya 23 April 1999) sebuah majalah internasional Van Zorge Heffernan menurunkan sketsa segitiga politik Indonesia dengan tema Indonesia's Political Map; Main Camps and Parties Relative Positions.
Menurut asumsi Van Zorge Heffernan, terdapat tiga pengelompokan kekuatan partai politik yang bisa digambarkan dalam sebuah segitiga, di mana posisi sudut adalah simpul ideologi dari kumpulan partai-partai tersebut. "Each of these parties are assumed to represent the purest definition of their respective camps," demikian ungkap Van Zorge.

Ketiga kelompok itu adalah grup penguasa (incumbents camp), grup nasionalis-sekular (secular-nationalists camp), dan grup Islam (Islamic camp). Letak partai dalam segitiga itu menunjukkan "posisi tawar ideologis" partai tersebut terhadap ketiga sudut magnet politik itu; makin dekat jaraknya, dianggap makin dekat pula platform ideologinya. Untuk mudahnya selanjutnya Indonesia's Political Map itu sebut saja "segitiga Van Zorge".

Jika segitiga Van Zorge enam tahun silam ini kita bandingkan dengan realitas politik Jawa Barat hari ini, tampaknya tidak mengalami perubahan berarti. Suatu ketepatan prediksi yang luar biasa!

Tampak jelas tiga partai menduduki posisi sudut segitiga Van Zorge, yaitu Golkar (waktu itu berkuasa), PDIP (waktu itu belum berkuasa), dan PK (waktu itu baru berdiri dan akan ikut pemilu). Menurut Van Zorge, PDI dan ABRI (meski bukan partai) secara ideologi dianggap serumpun dengan Golkar. Sementara PKP dan PKB dipersepsi dekat dengan PDIP. Sisanya PDR, PKU/PNU, PBB, PPP, dan PAN dianggap secara ideologis lebih bersaudara dengan PK (kini PKS).

Kalaulah Partai Demokrat (tahun 1999 belum ada) mau diletakkan dalam segitiga itu, maka posisinya akan berada di sudut Golkar, sebelah kiri ABRI. Artinya, Partai Demokrat dianggap serumpun dengan Golkar (atau ABRI) dan lebih dekat ke sudut PKS ketimbang sudut PDIP.

Hingga di sini muncul pertanyaan yang cukup mengganggu. Tentu saja kita amat memahami bagaimana Golkar dan PDIP (dua partai besar) menduduki posisi "terhormat" pada segitiga Van Zorge. Namun bagaimana bisa partai baru dan kecil seperti PK (yang waktu itu belum tahu jumlah pengikutnya berapa), harus berada pada posisi "terhormat" sejajar dengan Golkar dan PDIP?

Seperti diketahui, PK berada pada posisi representasi grup Islam. Van Zorge sendiri menyebut Partai Keadilan sebagai modernis-eksklusif (modernist-exclusivist). "

Posisi PKdalam Van Zorge itu menunjukkan eksistensi partai di mata dunia," ujar ideolog PKS Abu Ridho. Mantan Presiden B.J. Habibie pernah menyebut Partai Keadilan sebagai the real politics, karena menurutnya memiliki massa pendukung yang sadar. Selain soal ideologi, inilah barangkali alasan penguat mengapa PK ditempatkan oleh Van Zorge dalam posisi "terhormat" itu.

Selanjutnya jika pendekatan segitiga Van Zorge kita konfirmasi dengan realitas politik yang muncul dalam pilkada Depok (26/6) dan Sukabumi (27/6), maka dua kekuatan yang sama muncul berhadapan di dua tempat berbeda. Yaitu PKS dan Partai Golkar. Di Kota Depok PKS muncul bersama Nur Mahmudi Ismail dan Golkar bersama Badrul Kamal. Di Kabupaten Sukabumi, PKS hadir dengan Sukmawijaya dan Partai Golkar membawa Lukas Mulyana.
Mungkin ada pertanyaan, mengapa hanya dua partai itu yang muncul? Hingga tulisan ini dibuat, belum ada partai ketiga yang berani muncul. Menurut segitiga Van Zorge, seharusnya ada kekuatan ketiga yang turut bermain yaitu PDIP.

Skenario pertarungan

Memprediksi tarik-menarik segitiga kekuatan Golkar-PKS-PDIP, hemat penulis secara umum akan ada dua skenario pertarungan, yaitu "keras" dan "lunak". Untuk pertarungan "keras" tersedia dalam dua pilihan, yaitu PKS vs Golkar (+ PDIP), atau PKS vs PDIP (+ Golkar).

Dalam seting "keras" ini, akan sulit mencari format pilkada yang ketiganya (Golkar, PKS, dan PDIP) maju sekaligus. Mengapa? Karena jika itu yang terjadi, yang menang kemungkinan besar adalah PKS. Sebab suara PKS itu biasanya utuh, jika Golkar dan PDIP sama-sama maju, suara non-PKS akan terbelah dua, sebelah ke Golkar dan sebelah lagi ke PDIP, di sela-sela itulah PKS beroleh keuntungan. Dapat dikatakan, secara strategi bahwa segitiga Van Zorge itu jika utuh dalam sebuah pilkada, akan mematikan kedua-duanya (Golkar dan PDIP). Dalam perhitungan inilah, maka di Depok dan Sukabumi, baik Golkar maupun PDIP sama-sama menghindari "kubangan" segitiga Van Zorge yang berbahaya itu.

Memang akan menjadi tontonan menarik jika suatu ketika ada format lain pilkada dengan skenario pertarungan Golkar-PKS vs PDIP, atau PDIP-PKS vs Golkar. Sebut saja skenario baru ini dengan pertarungan "lunak". Dalam skenario ini, kartu penentunya ada pada PKS! Bayangan ke arah ini kian dekat jika pilkada Depok dimenangkan Nur Mahmudi, karena PKS akan menjadi daya tarik luar biasa bagi Golkar maupun PDIP.

Pada titik inilah pilkada Depok akan menjadi ukuran. Jika PKS menang, skenario pertarungan "lunak" akan banyak diminati Golkar maupun PDIP. Namun jika PKS kalah, pertarungan "keras" kiranya yang akan lebih disukai kedua partai tersebut.

Sebagai wacana mentah saja, saya pribadi melihat, misalnya Kota Banjar kiranya akan cocok dengan format Golkar-PKS vs PDIP, sebaliknya Kabupaten Kuningan dianggap akan pas dengan format PDIP-PKS vs Golkar. Untuk level provinsi, rasa-rasanya akan tampak "ideal" jika menggunakan format Golkar-PKS vs PDIP.

Dalam realisasinya di lapangan nanti, penulis memperkirakan akan ada beberapa daerah yang menempuh skenario pertarungan "keras", namun setengahnya lebih cenderung menggunakan skenario pertarungan "lunak". Namun seperti sudah diingatkan Kang Tjetje pada penulis, "Betapa pun matangnya perhitungan kita, politik bukanlah matematik. Bisa saja meleset!" Karenanya tidak tertutup kemungkinan, sesuatu terjadi di luar sekenario yang ada. Ini semua, sebagiannya bergantung pada komunikasi politik yang dibangun PKS sejak dini. Wallahu a'lam.***

Penulis alumnus Universitas Braunschweig Jerman; anggota Komisi A DPRD Jawa Barat.

Pilkada dan Masa Depan Partai Keadilan Sejahtera

Oleh HUSIN M. AL-BANJARI

HINGGA pertengahan Juli 2005 tercatat 34 calon dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menang dalam 200 lebih pemilihan langsung kepala daerah (pilkada) baik provinsi ataupun kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Hasil yang hampir mencapai angka 17 persen itu merupakan kader sendiri tanpa koalisi, ataupun PKS dengan koalisi partai lain. Sebuah angka kenaikan yang luar biasa jika dibandingkan dengan perolehan suara nasional PKS pada Pemilu 2004 yang hanya 7,3 persen. Di Jawa Barat sendiri PKS memenangkan 100 persen pada dua pilkada yang baru digelar, yaitu Kota Depok dan Kabupaten Sukabumi.

Dengan data-data awal ini, lalu orang mempertanyakan bagaimana kira-kira peta pilkada selanjutnya dan pengaruhnya terhadap masa depan PKS? Satu pertanyaan yang pada saat sama pasti mengundang pemikiran serius dari partai-partai lain menghadapi sepak terjang PKS yang disebut-sebut fenomenal ini.

Seperti diprediksi oleh para pakar jauh sebelumnya, bahwa peran partai tidak akan begitu signifikan dalam pemilihan langsung, sementara figur dianggap lebih dominan dalam memenangkan pertarungan. Sebuah asumsi yang benar-benar memberi keuntungan ganda bagi PKS, karena asumsi ini tidak sepenuhnya berlaku bagi PKS. Artinya, pertama konstituen utama PKS (primordial-kalkulatif -Eep) jumlahnya tidak berubah baik untuk pemilu maupun pilkada. PKS dikenal sebagai sebuah partai dengan konstituen cukup solid dan konsisten, lihat saja dari 200 lebih pilkada tidak satu pun figur yang diusung PKS mendapat suara lebih rendah dibanding perolehan suara PKS pada Pemilu 2004 di daerah tersebut. Maka dapat dikatakan angka Pemilu 2004 ini adalah perolehan minimal dalam pilkada (siapa pun yang dicalonkan PKS, bahkan untuk orang yang tidak dikenal sekalipun).

Kedua, dimungkinkan dengan adanya "partikel bebas" orang-orang yang tidak terikat terhadap partai-partai lain akan "melimpah" sebagiannya ke calon dari PKS. Malah saya sempat mendengar langsung dari beberapa orang politikus, bahwa dalam sebuah pilkada di daerahnya dirinya tidak mencoblos calon yang diusung oleh partainya karena alasan track record-nya yang dinilainya kurang baik. Jelaslah faktor rasionalitas terhadap figur bagi kalangan intelektual menjadi pertimbangan penting dalam menentukan pemimpin.

Di luar alasan-alasan itu, perlu dicatat bahwa konsistensi suara PKS antara pemilu dan pilkada bukanlah semata cermin militansi sebagaimana banyak disebut-sebut orang, karena jumlah suara militan PKS hanya dalam porsi yang sangat kecil (kader inti PKS pada saat Pemilu 2004 berjumlah sekira 350 ribu orang, khasnya partai kader saat ini pun tidak ada lonjakan yang luar biasa). Tetapi lebih karena alasan adanya kepercayaan atau "harapan baru" terhadap partai dakwah ini.

Sebagaimana hasil jajak pendapat yang digelar sebelum Pemilu 2004, PKS dianggap sebagai partai yang paling memberikan harapan. Sekadar membuka arsip, hasil survei Jawa Pos (3/12/2003) menempatkan PKS pada urutan tertinggi (31,4%) di mana responden meyakini PKS sebagai "partai yang masih layak dipercaya." Ditambah lagi waktu itu masyarakat pada umumnya tidak puas dengan kinerja pemerintah. Hasil polling Metro TV menunjukkan 62% responden menyatakan tidak puas terhadap prestasi partai-partai Pemilu 1999 (Media Indonesia, 9/12/2003).

Secara umum tampaknya perasaan masyarakat serupa ini masih ada hingga kini. Karenanya siapa pun figur yang diusung PKS dalam pilkada, tetap membuka alternatif dan menyimpan harapan untuk perubahan.

Tapi sejauh menyangkut kajian yang lebih strategis, sebenarnya peta pilkada sangat erat kaitannya dengan analisis penulis di Pikiran Rakyat sebelumnya (Prediksi Munculnya Tiga Kekuatan Politik Jawa Barat, 18 April 2005). Dalam tulisan itu di antaranya disebutkan, "Memprediksi tarik menarik segi tiga kekuatan Golkar-PKS-PDIP, hemat penulis, secara umum akan ada dua skenario pertarungan, yaitu keras dan lunak. Untuk pertarungan keras tersedia dalam dua pilihan, yaitu PKS vs Golkar (+ PDIP), atau PKS vs PDIP (+ Golkar)."

Dalam seting "keras" ini, akan sulit mencari format pilkada yang ketiganya (Golkar, PKS, dan PDIP) maju sekaligus. Mengapa? Karena jika itu yang terjadi, yang menang kemungkinan besar adalah PKS. Sebab suara PKS itu biasanya utuh, jika Golkar dan PDIP sama-sama maju, suara non-PKS akan terbelah dua, sebelah ke Golkar dan sebelah lagi ke PDIP, di sela-sela itulah PKS bisa beroleh keuntungan. Dapat dikatakan, secara strategi bahwa segi tiga Van Zorge itu jika utuh dalam sebuah pilkada, akan mematikan kedua-duanya (Golkar dan PDIP).

Beberapa hasilnya sudah sama-sama kita saksikan. Hasil pilkada baik di Kota Depok (26/6) maupun kabupaten Sukabumi (27/6), Golkar dan PDIP masing-masing mengajukan calon sendiri. Keduanya masuk ke dalam "kubangan" segi tiga Van Zorge yang mematikan itu, justru kandidat yang diusung PKS (sendiri ataupun koalisi) memperoleh kemenangan. Persis seperti prediksi tulisan itu!

Untuk skenario pertarungan ke depan, seperti sudah dikatakan artikel yang sama, "Memang akan menjadi tontonan menarik jika suatu ketika ada format lain pilkada dengan skenario pertarungan Golkar-PKS vs PDIP, atau PDIP-PKS vs Golkar. Sebut saja skenario baru ini dengan pertarungan lunak. Dalam skenario ini, kartu penentunya ada pada PKS! Bayangan ke arah ini kian dekat jika pilkada Depok dimenangkan Nur Mahmudi, karena PKS akan menjadi daya tarik luar biasa bagi Golkar maupun PDIP. Pada titik inilah pilkada Depok akan menjadi ukuran. Jika PKS menang, skenario pertarungan 'lunak' akan banyak diminati Golkar maupun PDIP. Namun jika PKS kalah, pertarungan 'keras' kiranya yang akan lebih disukai kedua partai tersebut."

Masih dalam artikel itu, wacana skenario pertarungan yang "diusulkan" untuk Kota Banjar, Kabupaten Kuningan, dan Provinsi Jawa Barat, dapat direnungkan lebih saksama khususnya oleh para pengambil kebijakan partai-partai di Jawa Barat. Kartu ini demikian terbukanya, tinggal bagaimana para politikus terkait mengartikulasikan dan menindaklanjutinya secara konkret.

Namun di atas segala argumen itu adalah takdir (kehendak) Allah SWT. Sebagai umat beriman, kita menyadari tidak ada kemenangan kecuali karena iradah-Nya. Salah satu takdir Allah itu adalah keberadaan aturan main tentang otonomi daerah yang memberikan iklim kondusif terhadap potensi dan eksistensi partai baru seperti halnya PKS. Salah satu berkah yang aktual misalnya adalah Undang-Undang (UU) Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang mengamanatkan Tatacara Pemilihan Kepala Daerah dipilih secara langsung oleh rakyat, tidak lagi oleh DPRD.

Di sinilah celah sejarah itu terbuka! Berkat UU No. 32/2004 itu kader-kader PKS bisa ikut memasuki arena pemilihan kepala daerah. Jika saja menggunakan cara lama (dipilih oleh DPRD), "dipastikan" PKS akan kesulitan memperoleh barang satu pun posisi kepala daerah. Belajar dari Kota Depok atau DKI Jakarta, di mana jumlah anggota legislatif PKS paling banyak, namun tidak mampu meraih Ketua DPRD. Ini mudah dimaklumi karena selain PKS sebagai pemain yang baru belajar, kemampuan lobi yang rata-rata masih rendah, juga soal sulitnya melawan budaya politik uang. Bahkan jika saja tidak ada "jatah" sesuai amanat PP No. 25/2004, mungkin akan sedikit sekali kader PKS yang bisa menduduki Wakil Ketua DPRD meskipun secara kuantitas di dewan PKS masuk ke dalam tiga besar. Jadi, amat nyata PKS diuntungkan oleh sistem hukum yang ada.

Terakhir, menyangkut tema pilkada dan pengaruhnya terhadap masa depan PKS. Sebagai salah satu ilustrasi saja, kaitan ini kita dekati dengan teori pemasaran, yaitu ada istilah positioning yang didefinisikan oleh MarkPlus sebagai "persepsi yang ingin dibangun di benak konsumen." Misalnya mobil VW yang merupakan singkatan dari Volkswagen = "kendaraan rakyat." Dari namanya saja sudah terbaca apa yang diinginkan oleh pabrik tentang produk itu di benak konsumen. Ujung-ujungnya yang dapat dicapai dengan menerapkan strategi positioning (mind share) adalah terbentuknya brand image (heart share). Contoh konkretnya, "ingat mobil ya Kijang", "ingat motor ya Honda".

Ada asumsi semakin sering sebuah produk ditayangkan iklan di TV, kian besar peluang positioning-nya. Begitu juga dengan pilkada. Ketika sebuah partai selalu ikut (secara cukup dominan) dalam setiap pilkada yang digelar, maka semakin tinggi nilai publisitasnya. Pemberitaan koran dan media elektornik (radio, TV) akan menjadi semacam "iklan gratis" bagi partai tersebut. Penyebutan nama suatu partai secara berulang dan intensif akan membuat positioning partai tersebut naik. Bahkan tidak penting, kalah ataupun menang! Lama-lama bisa tertanam image, ada pilkada ada PKS!

Jika rentang pilkada ke pilkada kita tarik garis lebih jauh ke depan, kesertaan PKS dalam setiap pilkada adalah sebentuk deretan kampanye yang terus-menerus tiap bulan, pekan, bahkan hari hingga tahun 2008. Sehingga secara ekstrem dapat dikatakan untuk Pemilu 2009 PKS tidak membutuhkan energi besar untuk berkampanye lagi. Tinggal memetik hasil kerja maratonnya!
Sisi yang lain yang lebih menarik adalah bahwa rencengan pilkada dapat dicerna sebagai pertadingan ekshibisi menjelang pertarungan akbar sesungguhnya, yaitu Pemilihan Presiden (Pilpres) 2009. Sebagaimana dalam olah raga, semakin banyak sebuah tim melakukan pertandingan ekshibisi, makin mahir dan makin besar kepercayaan dirinya sehingga semakin besar pula peluangnya meraih kemenangan dalam even-even kejuaraan besar.

Peluang ke arah itu akan semakin nyata jika di beberapa daerah, seperti halnya kota Depok, sebagaimana dicanangkan oleh PKS benar-benar dapat menjadi the city on the hill (kota di atas bukit), sebuah model pemerintahan percontohan yang tampak keistimewaannya dari semua arah.***

Penulis, alumni Univ. Braunschweig, Jerman 1993; sekretaris Dewan Syariah PKS Jawa Barat.

STRATEGI PERANG SUN TZU DALAM KONTEKS PEMASARAN PERBANKAN SYARI’AH

ABSTRAK

Pasar perbankan syari’ah semakin kompetitif. Kebijakan Office Chanelling menjadi salah sumbu pemicu. Strategi pemasaran yang terfokus pada sudut pandang tradisional, yang hanya melihat pasar dari segi demografis berupa agama, menuntut inovasi strategi. Strategi Perang Sun Tzu adalah salah satu upaya untuk mampu merebut pasar yang semakin rasional. Strategi ini diharapkan akan mampu membantu bank syari’ah untuk dapat menciptakan strategi dan taktik pemasaran untuk memenangkan ketatnya kompetisi perbankan Indonesia.

Kata Kunci : Kompetitif, office chanelling, strategi pemasaran, strategi Sun Tzu

PENDAHULUAN

Perkembangan ekonomi dan bisnis berbasis syari’ah makin marak beberapa tahun terakhir. Laju pertumbuhan itu kembali mendapat angin segar dengan keluarnya Fatwa Majelis Ulama Indonesia akhir tahun 2003 yang mengharamkan beragam jenis transaksi berbasis bunga, baik di lingkungan perbankan, asuransi maupun transaksi bisnis lain.

Pemicu laju perkembangan bisnis syari’ah di sektor riil, tidak bisa dipungkiri karena munculnya perbankan syari’ah. Menurut data Direktorat Perbankan Syari’ah Bank Indonesia sampai dengan September 2005, pemain dalam industri perbankan syari’ah terdiri dari tiga Bank Umum Syari’ah, dan 17 Unit Usaha Syari’ah serta 92 Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah. Bank Indonesia memprediksi bahwa pada akhir 2006, pangsa pasar perbankan syari’ah terhadap total perbankan nasional mencapai 2,79 %[1]. Mungkinkah target 5 %, seperti tercantum dalam cetak biru (blue-print) pengembangan perbankan syari’ah dari Bank Indonesia dapat tercapai.

Berdasarkan riset Karim Bussiness Consulting diproyeksikan tahun 2005 menjadi tahun terakhir pertumbuhan perbankan syari’ah secara anorganik. Setelah tahun itu, pertumbuhan bank syari’ah mulai mengarah pada pertumbuhan organik yakni memperbesar aset dan jaringan. Hal ini berarti perbankan syari’ah harus mulai mereview fokus pasarnya. Jika sebelum tahun 2005, pasar perbankan syari’ah terfokus pada pasar emosional (emotional market), maka pasca tahun 2005 perbankan syari’ah harus mulai menyiapkan strategi pemasaran untuk merebut pangsa pasar rasional (rational market). Paling tidak perbankan syari’ah harus menjadikan √©motional market sebagai basis pasar utama, dengan terus memperkokoh posisinya di emotional market dengan memperkuat “warna Islam”.

Marketing memang identik dengan peperangan. Keberhasilan strategi militer mengilhami konsep-konsep yang melahirkan suksesnya pemasaran. Karenanya, beberapa “jurus” Sun Tzu sangat relevan diterapkan dalam dunia pemasaran. Strategi ini aslinya merupakan strategi perang militer dinasti Cina klasik, tetapi kemudian diadopsi kedalam strategi pemasaran modern. Strategi Sun Tzu ini telah teruji dan dipakai oleh banyak perusahaan dalam memasarkan produk mereka, yang ternyata banyak meraih keberhasilan. Mungkinkah Strategi Sun Tzu sesuai diterapkan dalam strategi pemasaran bank syari’ah ?

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif (descriptive research) dengan pendekatan kualitatif. Data dalam penelitian ini merupakan jenis data primer dan sekunder. Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data studi pustaka (library reseach)..
Penelitian ini menggunakan teknik analisis data deskriptif. Dari data-data yang diperoleh kemudian disusun berdasarkan aturan dan analisis sehingga mempermudah pembahasan masalah-masalah yang ada. Dengan metode ini, peneliti ingin mengungkap relevansi strategi perang Sun Tzu dalam memasarkan produk perbankan syari’ah.

APLIKASI STRATEGI PERANG SUN TZU

Ajaran Sun Tzu tidak hanya dijadikan sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah militer, tetapi juga dipergunakan di berbagai bidang, mulai dari ekonomi, politik, corporate strategy, human resource, finance, bahkan sampai dipakai sebagai cara untuk mendidik anak juga.[2]

Aplikasi Strategi Sun Tzu pada Pemasaran Produk Bank Syari’ah

Sun Tzu mengatakan bahwa dalam hasil setiap peperangan selalu ditentukan oleh lima faktor konstan, yaitu:[3]
a. Hukum moral (loyalitas atau komitmen) para prajurit yang siap mati.
b.Langit yang menunjukkan keadaan alam yang tidak bisa diubah, seperti siang-malam, panas- dingin.
c. Bumi yang terdiri dari kekuatan dan kelemahan, keadaan medan pertempuran yang dihadapi, kemungkinan hasil peperangan.
d. Pimpinan sebagai simbol karakter dan sifat dari teladan yang baik.
e. Metode dan Disiplin yang perlu dipahami dalam menyususun strategi perang dan konsekuensi dari pelaksanaan strategi tersebut.

Pihak yang paling menguasai faktor perang di atas, akan berhasil memenangkan pertempuran dengan mudah. Bank syari’ah dapat menggunakan strategi perang Sun Tzu sebagai strategi pemasaran produk mereka. Strategi Sun Tzu dapat digunakan dalam sistem pemasaran bank syari’ah secara komprehensif. Dalam memasarkan produknya, bank syari’ah menghadapi dunia persaingan, yang dapat diibaratkan sebagai sebuah pertempuran. Berdasarkan ajaran Sun Tzu, maka bank syari’ah harus menguasai faktor perang agar dapat memenangkan persaingan itu. Penguasaan faktor perang itu oleh bank syari’ah dalam persaingan pemasaran dengan menggunakan beberapa dari 13 langkah jurus perang Sun Tzu[4].

1. Menang Tanpa Bertempur

Sun Tzu mengatakan, “Dalam perang, strategi terbaik adalah merebut suatu negara secara utuh. Memperoleh 100 kemenangan dalam 100 pertempuran bukanlah suatu keahlian. Namun menaklukan musuh tanpa bertempur, itu baru keahlian.” Karena tujuan pemasaran Bank syari’ah adalah survive dan meraih untung, maka bank syari’ah harus merebut pasar. Hal ini mesti dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga pasar tidak hancur dalam prosesnya. Hal ini tentu saja sesuai dengan etika persaingan dan ekonomi Islam. Sun Tzu menyebutnya sebagai “menang tanpa bertempur”.

Bank syari’ah bisa melakukan "menang tanpa bertempur" dengan beberapa cara, seperti menyerang bagian pasar yang selama ini terlayani oleh produk bank syari’ah maupun lembaga keuangan lain. Dalam hal ini bank syari’ah bisa melakukannya dengan penyediaan pembiayaan bagi para pengusaha kecil yang selama ini belum banyak tersentuh oleh bank syari’ah. Bank syari’ah juga bisa menggarap pasar mengambang (floating market) yang mempunyai potensi sangat besar. Pasar mengambang ini terdiri dari para nasabah rasional, bukan nasabah loyalis syariah. Bank syari’ah dapat memperkenalkan keunggulan return yang kompetitif dari sistem bagi hasil yang berprinsip keadilan. Return yang kompetitif ini tentu dapat menarik nasabah yang berpikir rasional dan mengharap keuntungan yang tinggi. Dengan begitu bank syari’ah akan memperoleh pangsa pasar yang lebih besar tidak hanya nasabah loyalis syariah saja.

2. Hindari Kekuatan Lawan dan Serang Kelemahannya

Sun Tzu mengarahkan kita fokus pada kelemahan kompetitor, yang bakal memaksimalkan profit karena dapat meminimalkan sumber daya yang digunakan. “Pasukan itu ibarat air. Agar bisa mengalir, dia harus menghindari tempat tinggi dan mencari tempat rendah. Makanya, hindarilah kekuatan dan seranglah kelemahan lawan,” demikianlah petuah Sun Tzu. Dalam pemasaran, lokasi strategis sangat menentukan bagi penigkatan laba. Pemilihan lokasi pendirian bank syari’ah haruslah disesuaikan dengan potensi pasar (medan perang) yang akan menjadi fokus garapannya. Banyak pemasaran bank syari’ah yang familiar dengan teknik analisis SWOT sebagai cara untuk menganalisa situasi bank syari’ah. Kebanyakan strategi pemasaran sudah menggunakan secara implisit, namun tidak begitu sempurna karena kurang eksplisit. Bank syari’ah sebaiknya menggunakan strategi “flanking” (menyerang sisi) terhadap pesaing lewat diferensiasi, perluasan atau membentuk kembali kebutuhan nasabah. Serangan bisa juga dilakukan ketika pesaing tak menduganya sama sekali.

Kelemahan bank syari’ah adalah pada sisi modal atau aset, sehingga bank syari’ah harus menghindari persaingan harga secara terbuka. Bank syari’ah tidak perlu terpancing dengan pergerakan suku bunga konvensional dalam menentukan nisbah bagi hasilnya. Selain tidak sehat dari aspek syariah, persaingan ini juga kan membahayakan kelangsungan aset bank syari’ah Sebaliknya, bank syari’ah harus menyerang kelemahan pesaing dari aspek syariah yaitu, bunga yang ribawi. Dengan kelemahan itu, bank syari’ah dapat terus menerus mempersoalkan hukum bunga yang eksploitatif tersebut. Caranya dapat melalui sosialisasi fatwa MUI tentang keharaman bunga atau dengan mengadakan kampanye anti bunga. Disamping itu, bank syari’ah juga harus menonjolkan kekuatannya pada sistem bagi hasil yang lebih syar'i.

Penyerangan sisi oleh bank syari’ah, yaitu dengan cara terus membedakan diri dengan pesaing, yaitu mengenai:
a. Konsep pengelolaan berdasarkan syariah yang bebas riba.
b. Pengelola berperilaku dan berkomunikasi agamis serta banyak para marketer bank syari’ah yang mempunyai hubungan yang sangat dekat secara psikologis dengan para nasabahnya[5].
c. Mengadakan pengajian rutin antar nasabah, pengelola, dan pengurus sebagai media promosi yang tepat.
d. Mengembangkan pola pembinaan dan pendampingan dengan membentuk kelompok-kelompok binaan. Beberapa bank syari’ah menggunkan sistem tanggung renteng, yakni pembiayaan secara kelompok sehingga pembiayaan yang macet bisa ditanggulangi.
Kondisi perekonomian seperti sekarang tentu membuat jalannya dunia usaha agak lambat, bank syari’ah harus mampu memotivasi nasabahnya agar bangkit, sehingga nasabah tersebut membutuhkan pembiayaan. Motivasi ini merupakan cara untuk menciptakan kebutuhan baru sebagai salah satu upaya penyeragan sisi. Hal ini tidak akan disadari dan diduga sebelumnya oleh pesaing.

3. Gunakan Pengetahuan dan Tipuan

Inilah petuah Sun Tzu yang sangat terkenal: “Kenalilah musuhmu dan kenalilah dirimu, niscaya Anda akan berjaya dalam ratusan pertempuran.” Agar bisa tahu dan mengeksploitasi kelemahan pesaing, butuh pemahaman mendalam tentang strategi, kapabilitas, pemikiran, dan hasrat para pemimpinnya; seperti juga pengetahuan yang dalam atas kekuatan dan kelemahan bank syari’ah. Penting juga untuk mengerti keseluruhan persaingan serta tren yang terjadi di sekeliling. Dengan demikian bank syari’ah memiliki feeling atas medan persaingan tempat di mana bank syari’ah akan bertempur. Sebaliknya, untuk menjaga agar kompetitor tidak memakai strategi yang sama melawan bank syari’ah, penting kiranya untuk menutupi dan merahasiakan rencana tersebut.

Dalam mengenali diri sendiri, bank syari’ah harus mempunyai percaya diri yang tinggi dan tidak mudah menyerah dalam persaingan. Sebaliknya bank syari’ah tidak boleh sombong, ketika meraih kesuksesan. Kesombongan itu akan mengaburkan bank syari’ah untuk mengetahui kekuatan dan kelemahannya. Pengenalan pesaing diharapkan dapat membantu untuk menentukan strategi yang dipakai menyerang kelemahan pesaing. Untuk mengenal medan atau pasar diperlukan pengalaman di lapangan. Dengan mengenal medan, bank syari’ah akan mampu terus berinovasi dan menciptakan momentum. Pengenalan ini tentu memerlukan data informasi dari sebuah tim Research and Development yang handal. Oleh karena itu bank syari’ah memerlukan sebuah departemen Penelitian dan Pengembangan yang terus menerus bekerja di belakang layar.“Suatu perhitungan akan membuahkan hasil kemenangan bila kita mempunyai informasi yang tepat waktu, relevan, dan akurat,” begitulah pendapat Sun Tzu. Oleh karena itu, bank syari’ah harus memaksimalkan kekuatan dalam mengumpulkan informasi yang penting. Penggunaan intelejen pasar (spy) yang jitu akan meningkatkan pengetahuan untuk menyerang pasar dan mendiferensiasikan diri dalam mind share pelanggan. Pemasar bank syari’ah juga tidak bisa mengabaikan gerakan pesaing, lebih-lebih lagi tidak bisa mengabaikan kebutuhan nasabah. Di dunia pemasaran, bank syari’ah mesti mengenal siapa nasabahnya, mengenal siapa pesaingnya, dan mengenal diri bank syari’ah sendiri untuk dapat merebut kemenangan.

Bank syari’ah tidak boleh hanya mengandalkan informasi yang tersedia di publik atau pasar. Produk bank syari’ah yang bagus saja tidak cukup menjamin untuk memenangkan persaingan, tetapi diperlukan sebuah informasi tentang manuver pesaing melalui penggunaan intelejen pasar (spy) yang sesuai dengan etika persaingan bisnis dan ajaran Islam. Dengan informasi dari mata-mata (marketer), Bank syari’ah bisa menentukan strategi pemasaran yang cerdik, tanpa menimbulkan konflik dan dengan biaya yang sehemat mungkin. Dengan informasi ini, bank syari’ah tidak akan melakukan kesalahan dan kecolongan oleh manuver pesaing yang sebenarnya tidak perlu ditanggapi disamping itu pula dengan penguasaan informasi bank syari’ah diharapkan bisa menerapkan strategi yang lebih jitu dan menjalankan strategi tersebut secara efektif dan efisien.

Disamping itu bank syari’ah yang mempunyai informasi yang lengkap dapat mendahului pesaing dalam melakukan manuver-manuver mengecoh perhatian pesaing, sehingga pesaing akan kecolongan dan tidak menyadari strategi bank syari’ah. Bank syari’ah harus menyembuyikan strategi yang akan digunakan dalam persaingan sehingga pesaing akan kesulitan dalam meramalkan gerak kita. Dengan begitu bank syari’ah dapat mengalihkan perhatian pesaing dan membuat mereka kewalahan dan kebingungan dalam menghadapi strategi bank syari’ah.

4. Kecepatan dan Persiapan

Pemasaran bank syari’ah harus bergerak cepat untuk dapat menguasai persaingan. Agar bisa menggunakan pengetahuan dan tipuan secara penuh, Sun Tzu menyatakan bahwa kita harus mampu bertindak dengan kecepatan tinggi. “Bersandar apa adanya tanpa persiapan merupakan kejahatan terbesar, persiapan terhadap kemungkinan yang muncul adalah kebijakan terbesar”. Bergerak dengan cepat bukan berarti mengerjakan secara tergesa-gesa. Kenyataannya, kecepatan butuh persiapan matang. Mengurangi waktu yang diperlukan untuk mengambil keputusan, mengembangkan produk, dan layanan nasabah adalah hal utama. Memahami reaksi kompetitor potensial terhadap serangan kita merupakan hal yang juga penting.

Timing dan kecepatan sangat krusial dalam persaingan lembaga keuangan Kemampuan membaca pasar dan meluncurkan produk secara cepat, biasanya merupakan langkah utama dalam meraih mind share dan market share. Kecepatan ini mesti dilakukan lewat persiapan yang matang dan membangun struktur tertentu yang cerdas, prospektif, dan adaptif. Dalam meluncurkan produk baru, bank syari'ah harus mempunyai kecepatan dibandingkan pesaing. Kecepatan itu juga harus diimbangi dengan persiapan yang matang atas segala kemungkinan, sehingga bank syari'ah akan siap dalam menhadapi segala resiko yang ditimbulkan dan produk yang diluncurkan itu tidak menjadi bumerang di kemudian hari.

Nasabah bank syari'ah yang sebagian besar pedagang kecil membutuhkan dana pembiayaan yang dengan mudah dan cepat cair. Bank syari'ah harus mampu melakukan pelayanan itu secara cepat, dalam hal ini bank syari'ah bisa membentuk kelompok-kelompok dalam pasar sehingga waktu untuk menarik dan menyalurkan pada nasabah bisa dilakukan dengan waktu yang singkat dengan biaya yang lebih sedikit Namun demikian, bank syari'ah harus tetap memperhatikan prinsip kehati-kehatian dalam memberikan pembiayaan. Kepercayan dan kemitraan dengan nasabah merupakan senjata ampuh dalam menerapkan jurus Sun Tzu ini.

Sun Tzu juga mengatakan "bahwa pasukan yang datang terlebih dahulu akan memproleh kemenagan yang lebih besar dibanding dengan pasukan yang datang tergesa-gesa", dalam hal ini pemasar lapangan bank syari'ah ibarat pasukan yang harus mempunyai mobilitas dan kecepatan membaca peluang pasar karena pemasar lapanganlah yang langsung berhadapan dengan para nasabah.

5. Membentuk Lawan

“Mereka yang ahli adalah mereka yang menggiring lawan menuju medan pertempuran dan bukan sebaliknya,” kata Sun Tzu. Membentuk medan persaingan berarti mengubah aturan kontes (rules of contest), membuat persaingan sesuai dengan keinginan bank syari'ah . Maka dari itu, kendali situasi harus berada dalam genggaman bank syari'ah , bukan pesaing. Salah satu cara melakukan strategi ini ialah melalui penggunaan aliansi. Dengan membangun jaringan aliansi, pergerakan kompetitor dapat dibatasi. Demikian pula, dengan mengontrol titik-titik strategis dalam industri, kita bakal sanggup membuat pesaing menari sesuai irama yang kita tentukan.

Sekarang co-marketing dan co-branding populer digunakan untuk menaikkan marketing relationship, pelengkap produk dan pengalaman yang lain. Menurut Sun Tzu, membangun jaringan aliansi yang kuat merupakan cara untuk membendung gerakan aktraktif lawan. Daripada merger dan akuisisi, aliansi mudah dibentuk dan mudah pula bubar. Ini mengurangi resiko investasi serta memberikan respon pasar dan persaingan yang cepat. Setiap marketing plan yang strategis mesti melibatkan identifikasi, analisis, dan evaluasi dari aliansi potensial untuk mengendalikan medan persaingan. Namun, sebelum membentuk aliansi, perlu dikaji keuntungan apa yang kita peroleh dan tawarkan kepada pihak lain dalam beraliansi.

Dalam melakukan aliansi, bank syari'ah dapat membentuk jaringan sebagai wadah untuk bertukar pikiran dan informasi, saling membantu dalam hal likuiditas, serta berkonsolidasi dalam menghadapi persaingan maupun menyelesaikan konflik yang muncul antar bank syari'ah sendiri. Dengan adanya jaringan ini diharapkan posisi tawar bank syari'ah di hadapan pemerintah maupun pesaing akan meningkat. Dengan posisi tawar yang tinggi, bank syari'ah akan lebih mudah membatasi gerak pesaing. Gerak pesaing yang terbatas akan memudahkan bank syari'ah Huntuk membuat pesaing melakukan persaingan sesuai aturan bank syari'ah .[6]
6. Pemimpin Berkarakter

“Bila pemimpin memperlakukan orang dengan kebajikan, keadilan, dan kebenaran, serta mengangkat rasa percaya diri mereka; semua pasukannya akan satu pikiran dan senang melayani.” Implementasi suatu strategi pemasaran bank syari'ah memerlukan delegasi. Butuh seorang pemimpin dalam hal ini manajer bank syari'ah spesial, untuk mewujudkan konsep-konsep strategi ini dan memaksimalkan potensi karyawan bank syari'ah. Sun Tzu menggambarkan beberapa ciri dari seorang leader yang baik. Seorang pemimpin harus bijak, tulus, ramah, berani, dan tegas. Pemimpin juga mesti selalu memberikan contoh pada bawahannya. Hanya leader berkarakter yang bisa merebut hati para karyawannya. Manajer bank syari’ah yang berkarakter akan mampu menciptakan suasana manajemen bank syari'ah yang dapat menumbuhkan disiplin dan percaya diri pegawai dalam menjalankan strategi pemasran yang telah ditetapkan

Seperti yang kita ketahui, kemampuan suatu bank syari'ah mendorong inisiatif karyawannya merupakan hal yang amat penting. Hanya dengan demikianlah, bank syari'ah tersebut bisa menyesuaikan strateginya, serta merespon lingkungan kompetensi yang dinamis dan tuntutan nasabah yang semakin tinggi. Seperti yang dikatakan Sun Tzu, “Dalam perang sekarang, terdapat seratus perubahan pada setiap langkahnya. Bila seseorang yakin ia mampu, ia maju; bila ia menganggapnya sulit, ia bakal tertinggal”. Sistem manajemen bank syari'ah juga harus mendorong kreativitas pegawai dengan cara memberikan kesempatan untuk menyampaikan ide atau pendapat yang dapat membantu kinerja pemasaran bank syari'ah .

Sun Tzu sangat memperhatikan kedisiplinan dan kepemimpinan, ia menyatakan "jika kata-kata perintah yang diberikan tidak jelas dan perintah tidak dipahami sepenuhnya, maka yang salah adalah panglimanya, namun jika perintah yang diberikan sudah jelas tapi para perajurit tidak mematuhinya maka yang salah adalah pemimpin” dari pernyataan tersebut jelas bahwa Sun Tzu sangat mengutamakan kebijakan pemimpin dan kedisipilinan bagi seluruh bawahannya untuk menaati akan tetapi di sisi yang lain Sun Tzu menyatakan bahwa "petarung yang handal akan mempertimbangkan pengaruh energi gabungan, dan tidak terlalu banyak meminta dari pasukannya"[7] dari pernyataan tersebut dapat dilihat bahwa Sun Tzu memperhatikan komunikasi dua arah antara pemimpin dengan bawahannya. Komunikasi ini penting dalam bank syari'ah agar keharmonisan hubungan atasan dan bawahan bank syari'ah tetap terjaga

BATASAN DALAM MENGAPLIKASIKAN STRATEGI SUN TZU
Bank syari’ah dan Strategi Perang Sun Tzu memiliki latar belakang yang kontradiktif. Bank syari’ah dalam mempraktekkan strategi Perang Sun Tzu harus berlandaskan pada kaidah-kaidah syar’i.

Bank syari’ah dalam menerapkan Strategi Perang Sun Tzu harus memperhatikan nilai-nilai Islami dan prinsip akhlakul karimah. Akhlakul karimah merupakan perangkat nilai yang harus diperhatikan dalam mempraktekan strategi perang Sun Tzu dalam memasarkan produk bank syari’ah.

Bank syari’ah dalam mengaplikasikan strategi perang Sun Tzu harus memperhatikan prinsip akhlak dalam bermuamalah, diantaranya; jujur, amanah, adil, ihsan, berbuat kebajikan, silaturahmi, dan sayang menyayangi. Bank syari’ah dalam melakukan rangkaian strategi perang Sun Tzu dalam memasarkan produk harus memperhatikan etika-etika Islami. Nilai etika dan akhlak inilah yang harus menjiwai rangkaian strategi Sun Tzu dalam memasarkan produk bank syari’ah.

KESIMPULAN

Strategi perang Sun Tzu telah banyak digunakan dalam pemasaran modern ternyata cukup relevan diterapkan ke dalam sistem pemasaran bank syari’ah. Namun, aplikasi strategi perang ini tentunya dibatasi oleh frame work sebuah bank syari’ah terutama prinsip-prinsip syariah Islam. Tidak ditemukan adanya hal yang bertentangan keras dengan etika islami dalam Strategi Sun Tzu. Hanya diperlukan sedikit penyesuaian ke dalam situasi dan kondisi yang dihadapi oleh bank syari’ah.


UCAPAN TERIMA KASIH

Allah SWT yang mengizinkan hamba untuk mensyukuri pontensi yang diamanahkan
Nabi Muhammad sang inspirator sejati di alam semesta
Ayah dan Bunda Kami yang terus istiqomah mencintai kami
Kakanda dan Adinda yang senantiasa tulus memberi cinta kasih pada kami
Mohammad Showwam Azmy dan Aji Purba Trapsila sebagai inspirator tulisan ini.
Para Murobbi kami, yang senantiasa sabar membimbing kami untuk senantiasa istiqomah dalam perjuangan dakwah
Ikhwafillah para mujahid di BO Ukhuwah dan Islamic Studies of Economics-Forum sebagai spiritor lahirnya karya ini.
Para Mitra Dakwah di seantaro Universitas Sriwijaya
Prof. Dr. Zainal Ridho Jafar, M.Sc sebagai Rektor Univeristas Sriwijaya
Drs. Fuad Rusdy Suwardi MS sebagai Pembantu Rektor III Universitas Sriwijaya
Dr. Syamsurizal AK sebagai Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya
Drs. Dian Eka, MM sebagai Pembantu Dekan III Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya
Drs. Yuliansyah M Diah, MM, Suhel M.Si, dan Rina Chandra Kirana, SE, MM, Ak sebagai Ketua Jurusan Manajemen, Ekonomi Pembangunan, dan Akuntansi FE Unsri
Drs. Kosasih M Zen sebagai motivator untuk senantiasa berkarya.
Ibu Aslawati, SE sebagai bunda Sub Bag Kemahasiswaan yang dengan sabar dan kasih sayang mengasuh semangat kami
Staff Sub Bag Kemahasiswaan, Yunda Herlina dan Mang Yazid
Ka’ Ahmad Sudiro sang kanda yang senantiasa memberi cinta dan semangat untuk belajar ekonomi syari’ah
Para sahabat mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya
Para Jiron tetangga

DAFTAR PUSTAKA

Al Qur’anul karim
Abdurahim, Ahim, 2001. Dalil-dalil naqli Seri Ekonomi Islami. Malang; UPFE
Antonio, Muhammad Syafe’i,2001. Bank Syariah Dari Teori Ke Praktik. Jakarta:Gema Insani
Antagia, angga, dkk. 2006. Optimalisasi Peran BMT dalam Pengembangan Sektor Pertanian.Yogyakarta. Makalah
Buku Panduan Kongres Nasional Lembaga Keuangan Mikro Syariah Baitul Maal wat Tamwil di Jakarta 2-5 Desember 2005.
Clavell, James. The Art of War Sun Tzu. Yogjakarta: Ikon, 2002.
Haryanto, Dheni. Jurus-jurus Sun Tzu dalam Pemasaran Pemasaran Modern (Marketing Quotient Community: www.mqc.cjb.net).
Hamidi,M.Lutfi,2003. Jejak-jejak Ekonomi Syari’ah.Jakarta: Senayan Abadi Publising
Karim, Adiwarman. 2003. Bank Islam: Analisis Fiqh dan Keuangan. Jakarta: IIIT.
Muhamad. , 2002. Manajemen Bank Syariah. Yogyakarta: UPP AMP YKPN.
Mursyid, M. , 2003. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Bumi Aksara bekerjasama dengan Pusat Antar Universitas – Universitas Indonesia.
Majalah TRUST, 2005. Menanti Eksekusi Bank Sentral, edisi 40 tahun III, 4-10 Juli
Nurul, Hadi, 2005. Peningkatan Kinerja Bank Syari’ah di Indonesia Pasca munculnya Dual Banking System melalui Penerapan Top Down-Bottom Up Strategi. Palembang
Qardawi, Yusuf.1994. Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam. Jakarta: Robbani Press
Widodo, Hertanto, et al. 1999, PAS (Pedoman Akuntansi Syariah) Panduan Praktis Operasional BANK SYARI’AH. Bandung: Mizan
Yusanto, Ismail,dkk. 2002. Menggagas Bisnis Islami. Jakarta: Gema Insani
http://www.bi.go.id/sipuk/sib/ind/executive/sulut/#isi
[1] Bank Indonesia, Laporan Perkembangan Bank Syari’ah 2004
[2]Dheni Haryanto, Jurus-jurus Sun Tzu dalam Pemasaran Pemasaran Modern (Marketing Quotient Community: www.mqc.cjb.net)
[3] James Clavell, The Art of War Sun Tzu, (Yogjakarta: Ikon), 2002, hal. 1-2.

[4]Dheni Haryanto, Jurus-jurus Sun Tzu dalam Pemasaran Pemasaran Modern (Marketing Quotient Community: www.mqc.cjb.net)

[5] Hasil kajian bulanan BEM-PS KUI di sampaikan oleh Mursida Rambe, Dewan Direksi BMT Bringharjo.
[6] Hal telah dilakukan dengan dibentuknya beberapa ASBISINDO (Asosiasi Bank Syari’ah Indonesia, baik di daerah maupun nasional. Akan tetapi dari hasil pengamatan yang berlangsung, asosiasi tersebut dirasa kurang efektif, khususnya dalam hal bantuan likuiditas. Untuk mengatasi hal ini, bank syari’ah memerlukan banyak cabangnya, seperti yang dilakukan oleh Bank Muamalat Indonesia
[7]James Clavell, The Art of War Sun Tzu, (Yogjakarta: Ikon), 2002, hal.3.

Rekonstruksi Perekonomian Indonesia Pasca Krisis : Perspektif Sistem Ekonomi Syari’ah


A. Latar Belakang


Segudang prestasi pembangunan ekonomi diraih Indonesia sebelum krisis ekonomi 1997. Prestasi yang layak dicatat diantaranya pertumbuhan ekonomi tinggi, swasembada beras, penurunan jumlah penduduk miskin secara signifikan, inflasi yang terkendali, stabilitas rupiah terhadap valuta asing, pendapatan per kapita di atas US$1000, kontribusi sektor industri pengolahan terhadap PDB di atas 25 persen, dan kontribusi ekspor nonmigas dalam perolehan devisa telah melampaui ekspor migas.


Badai krisis moneter telah menghancurkan kejayaan ekonomi Indonesia. Keadan berbalik sangat cepat. Jumlah penduduk miskin meningkat secara signifikan, inflasi di atas dua digit lagi, pasokan sembilan bahan pokok tersendat, kurs rupiah terhadap valuta asing anjlok, pendapatan perkapita turun menjadi US$600, utang luar negeri menggunung, perbankan nasional nyaris collaps, sektor industri banyak yang gulung tikar, PHK dan pengangguran merajalela, penanaman modal asing tidak kunjung datang.


Ikhtiar perbaikan ekonomi pun dilakukan. Indikator makroekonomi memang menunjukkan tanda perbaikan. Tahun 2006, pertumbuhan ekonomi berada pada angka 5.2%. Keadaan ini belum berdampak signifikan pada pencapaian tujuan ekonomi, terutama dalam mengurangi kemiskinan dan pengangguran. Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani, menyatakan bahwa kemungkinan krisis ekonomi akan terulang kembali. Pendapat ini dikuatkan oleh beberapa ahli ekonomi dalam dan luar negeri. Realita ini, menjelaskan ada something wrong dalam sistem ekonomi Indonesia.


Islam sebagai agama rahmat untuk seluruh alam, mungkinkah dapat memberikan sumbangsih pemikiran dalam merekonstruksi perekonomian nasional. Bagaimana merekonstruksi ekonomi Indonesia perspektif sistem ekonomi syari’ah ?

B. Tujuan Penulisan


Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan krisis ekonomi Indonesia yang berkepanjangan, dan kemungkinan menata kembali perekonomian Indonesia melalui aplikasi Sistem Ekonomi Syari’ah


C. Metodologi Penulisan


Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Ruang lingkupnya adalah penelitian ekonomi makro. Data penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur. Penelitian ini difokuskan pada kemungkinan aplikasi sistem ekonomi syari’ah dalam penataan kembali struktur bangunan perekonomian nasional, terutama aspek moneter, fiskal, perbankan, dan kebijakan sektoral.

D. Pembahasan


Ada beberapa hal penting yang menjadi pokok pembahasan makalah ini, antara lain faktor penyebab krisis ekonomi, fenomena kegagalan sistem ekonomi kapitalis, dan kebijakan rekonstruksi perekonomian Indonesia pasca krisis perspektif sistem ekonomi syari’ah. Secara ringkas akan dijelaskan sebagai berikut :


Faktor penyebab krisis ekonomi berkepanjangan di Indonesia ada enam, yaitu; Pertama, krisis kepercayaan. Kedua, kekurangtepatan dalam mendiagnosa dan memberikan resep penyembuhan krisis. Ketiga, faktor internasionalisasi pasar modal yang berkarakter spekulatif. Keempat, akumulasi kekurangtepatan kebijakan, seperti liberalisasi ekonomi. Kelima, kelembagaan ekonomi terutama kelembagaan perbankan yang kurang kuat. Keenam, merajalela tindakan korupsi.


Secara prinsipil, akar permasalahan ekonomi Indonesia ada empat, yaitu; pemberlakuan sistem ekonomi ribawi, menurunnya kualitas moral, keadilan yang tidak merata, dan buruknya tata kelola pemerintah dalam berbagai hal. Krisis ekonomi Indonesia adalah bukti kegagalan sistem ekonomi kapitalis. Kapitalisme tidak mampu menciptakan kesejahteraan secara menyeluruh, tetapi justru menciptakan kesenjangan.


Ditengah kegamangan perekonomian nasional pasca krisis, realita yang berkebalikan terjadi pada sistem ekonomi syari’ah. Sistem ekonomi syari’ah telah terbukti ampuh dan lebih resisten di masa krisis. Perwujudan dari sistem ini adalah sejak tahun 1975 didirikanlah Internasional Development Bank ( IDB ) di Jeddah. Sekarang di dunia telah berkembang lebih dari 400-an lembaga keuangan dan perbankan yang tersebar di 75 Negara, baik di Eropa, Amerika, Timur Tengah maupun kawasan Asia lainnya. Dalam bentuk kajian akademis, banyak Perguruan Tinggi di Barat dan di Timur Tengah yang mengembangkan kajian ekonomi Islam.


Fenomena suksesnya Bank Muamalat melewati krisis tanpa sedikit pun Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) menginspirasi perbankan Indonesia. Kini dunia perbankan berlomba membuka layanan syari’ah. Data Bank Indonesia tahun 2006 menunjukkan bahwa telah berdiri 561 Bank Syari’ah. Selain itu juga telah berdiri 25 Asuransi Syari’ah, Pasar Modal syari’ah, Pegadaian Syari’ah dan lebih 3200 BMT (Koperasi Syariah), dan Ahad – Net Internasional, serta maraknya kajian ekonomi syari’ah di berbagai universitas.


Ada lima kebijakan rekonstruksi ekonomi perspektif sistem ekonomi Syari’ah, yaitu Pertama, restrukturisasi kebijakan Sumber Daya Manusia (SDM). Kedua, mereduksi konsentrasi kekayaan. Ketiga, restrukturisasi ekonomi. Keempat, restrukturisasi keuangan. Kelima, perencanaan kebijakan strategis.


Pertama, tindakan restrukturisasi kebijakan pengelolaan dapat diwujudkan melalui memotivasi faktor manusia untuk melakukan apa saja yang diperlukan demi kepentingan pembangunan yang berkeadilan, dan kebijakan pengembangan kemampuan melalui pelatihan dan pendidikan berorientasi riset, serta sinergis dengan pembentukan lima sokoguru masyarakat, yaitu intelektual, negarawan, pengusaha, karyawan,dan rohaniwan. Sementara itu, pengembangan ilmu pengetahuan melalui riset diharapkan mampu mengantarkan ummat manusia pada Ke-Mahaan Sang Pencipta.


Kedua, Tindakan untuk mereduksi konsentrasi kekayaan, antara lain; reformasi pertanahan dan pembangunan desa Pengembangan industri kecil menengah (IKM) Pengaktifan ZISWAF dan sistem waris (Rekonsentrasi kepemilikan), dan Sinergisasi pengembangan IKM dengan Institusi Keuangan Syari’ah. Ketiga, kebijakan rekonstruksi ekonomi, antara lain; pengubahan preferensi konsumen, reformasi keuangan pemerintah, perbaikan iklim investasi, dan produksi berorientasi kebutuhan.


Keempat, kebijakan restrukturisasi keuangan, antara lain; secara bertahap perbankan nasional dibebaskan dari unsur bunga, menghindari praktik bisnis, terutama sektor finansial dari tindakan spekulatif, menggalakan kegiatan pembiayaan pembangunan dan bisnis berdasarkan prinsip kemitraan, dan dinarisasi Mata Uang (Fiat Money) atau penjagaan yang ketat terhadap nilai mata uang. Kelima, mengembangkan rencana kebijakan strategis yang bersifat komprehensif dengan berbasis kepada syariah. Tentu saja perlu ada tahapan-tahapan yang jelas. dalam mensolusikan krisis ekonomi Indonesia diharapkan melibatkan semua aspek kehidupan. Krisis ekonomi, sebenarnya, tidak hanya disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi, tetapi juga oleh sistem pemerintahan, sistem politik, dan juga moral pelaku ekonomi.


Daftar Pustaka

Chapra, M.Umer. 2000. Islam and The Economic Challenge. Surabaya: Risalah Gusti Press
Hall, Hill. 2001. Ekonomi Indonesia. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Thoha, M. 2003. ”Menata Masa Depan Perekonomian Indonesia Pasca Krisis: PerspektifEkonomidanPolitikIslam”.(Online), (http://www.ekonomi.lipi.go.id/info/, diakses tanggal 6 April 2007)